Sunday, April 10, 2022

SYEIKH MUGHYIDEEN ABDUL QADIR JAILANI BHG 6

 

(PERHATIAN: HANYA UNTUK MURID2 SYEIKH MUGHYIDEEN ABDUL QADIR JAILANI SAHAJA. KEPADA YG BELUM MENGAMBIL TALQIN WASILAH DRP SYEIKH ATAU BADAL DILARANG MEMBACA WARKAH INI)                                           

 

SYEIKH MUGHYDEEN ABDUL QHADIR JAILANI

 


KEROMAH SAHABAT-SAHABAT NABI SAW

 

KAROMAH ABU BAKAR AS SHIDDIQ YANG TIDAK DIKETAHUI ORANG

 

Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq radhiallhu'anhu adalah sahabat yang paling dicintai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi memuji Abu Bakar karena pengorbanannya yang begitu besar terhadap dakwah Islam. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: "Sesungguhnya aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup bersama kalian, oleh karena itu teladanilah dua orang sepeninggalku (sambil menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab)". (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3596)

 

Sayyidina Abu Bakar bernama lengkap 'Abdullah bin Abu Quhafah. Beliau lahir pada tahun 573 M dan salah satu orang yang awal memeluk Islam dan khalifah pertama sepeninggal Nabi. Berikut karomah beliau yang jarang diketahui banyak orang.  'Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu'anhu menceritakan bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tetamu hendak pergi makan malam bersama Rasulullah. Kemudian mereka datang setelah lewat malam. Isteri Abu Bakar bertanya, "Apa yang bisa engkau suguhkan untuk tetamumu?" Abu Bakar balik bertanya, "Apa yang kamu miliki untuk menjamu makan malam mereka?"

 

Sang isteri menjawab, "Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya." Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, "Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu justru menjadi lebih banyak dari sebelumnya." Sayyidina Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu beliau bertanya kepada isterinya, "Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?" Sang isteri menjawab, "Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya." Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, "Ini pasti daripada syaitan”

 

Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah dan meletakkannya di hadapan baginda. Ketika itu sedang ada pertemuan antara kaum muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Baginda menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar . (HR Al-Bukhari dan Muslim).

 

Kisah berikutnya, 'Aisyah RA bercerita, ayahku ( Abu Bakar Shiddiq ) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq setara 60 gantang) dari hasil kebunnya. Menjelang wafat, beliau berwasiat, "Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur'an. Lalu aku berkata, "Ayah, demi Allah, beberapa pun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma, dan untuk siapa lagi ya?" Abu Bakar menjawab, "Untuk anak perempuan yang akan lahir." (Hadits dari Urwah bin Zubair). Ini menunjukkan bahawa dia tahu bayi dalam kandungan isterinya (Habibah) adalah anak perampuan (adek bungsu Aisyah bernama Umi Kalthum).

 

ABU BAKAR, SAHABAT NABI SAW YANG MEMILIKI 16 KEUTAMAAN

 

                                             Perkarangan Masjid dan Maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani

Sahabat Nabi yang satu ini adalah sangat berpengaruh dan paling berjasa bagi Rasulullah SAW dan Agama Islam. Beliau adalah Abu Bakar Ass-shiddiq radhiallahu’anhu (RA), orang pertama yang memeluk Islam bersama Ali bin Abi Thalib (RA) dan Sayyidah Khadijah RA (istri Rasulullah SAW).

 

Dalam Biografi Abu Bakar Ass-shiddiq yang ditulis Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim, dijelaskan bahwa selain Ash Shiddiq, Abu Bakar juga diberi jolokan ‘Atiq karana tampan dan memiliki wajah cerah. Sedangkan julukan Ash Shiddiq artinya selalu membenarkan kabar Nabi Muhammad SAW dengan keyakinan penuh. Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.

 

Ciri fizik beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm. Sahabat Nabi yang lemah lembut ini dikenal tegas dan memiliki pendirian yang kokoh.

 

Tidak ada lelaki di dunia yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar. Berikut 16 Keutamaan yang dimilinya:


1. Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad SAW dari golongan umat beliau. 

 

Ibnu ‘Umar RA berkata: “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu (HR. Al-Bukhari). Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.



2. Abu Bakar adalah orang yang menemani Nabi Muhammad di Gua Tsur ketika Dikejar kaum Quraisy. 

 

Allah Ta’ala berfirman: “Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”. (QS. At Taubah: 40). Dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, Abu Bakar berkata kepadanya: “Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah”.

 


3. Ketika hendak berhijrah, Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya.

(Dalilnya disebutkan pada pekara 8)



4. Abu Bakar adalah khalifah pertama. 

 

Kita diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk meneladani khulafa ar-rasyidin, sebagaimana sabda beliau: “Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya)

 


5. Abu Bakar dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash. 

 

Ketika Nabi SAW sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam salat berjamaah. Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata: “Ketika Nabi SAW sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta izin untuk memulai salat.Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan salatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami salat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Quran. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan salatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan salatlah”.Umar bin Khattab pernah berkata: “Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

 


6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar. 

 

Nabi SAW bersabda: “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku iaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih)



7. Abu Bakar adalah salah seorang mufti di masa Rasulullah SAW. 

 

Nabi SAW menugaskan beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu: “Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di Hari Raya Idul Adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh berthawaf di Ka’bah dengan telanjang”. Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi SAW ketika perang Tabuk.

 


8. Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah SAW menganjurkan sedekah. 

 

Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata: “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah SAW bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

 


9. Abu Bakar adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. 

 

‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi SAW: “Siapa orang yang kau cintai? Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (iaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim)

 


10. Abu Bakar adalah Khalil bagi Nabi Muhammad SAW. 

 

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata: “Rasulullah SAW berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba itu hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah SAW lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seIslam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di Masjid selain pintu Abu Bakar saja’”

 


11. Allah Ta’ala mensucikan Abu Bakar. 

 

Allah Ta’ala berfirman: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21)


Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar.Selain itu beliau juga termasuk As Sabiquunal Awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)

 


12. Nabi Muhammad SAW memberi tazkiyah kepada Abu Bakar. 

 

Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi SAW: “Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”. (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu Bakar)



13. Abu Bakar didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga.

 

Nabi bersabda: “Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan salat, ia akan dipanggil dari pintu salat. Yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad. Jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al Bukhari-Muslim)

 


14. Abu Bakar melakukan banyak perbuatan mulia dalam sehari. 

 

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW: “Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: "Saya". Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: "Saya".Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: “Saya”. Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: "Saya". Rasulullah SAW lalu bersabda: "Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga"



15. Orang musyrik mensifati Abu Bakar sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah SAW. 

 

Mereka berkata tentang Abu Bakar: “Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Al Bukhari)

 


16. Ali bin Abi Thalib mengenal keutamaan Abu Bakar.  

 

Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, iaitu Ali bin Abi Thalib: “Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah SAW? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari)


Selain 16 keutamaan di atas, Abu Bakar juga dikenal sebagai sahabat yang bersikap zuhud. Beliau meninggal tanpa meninggalkan sesen pun dirham atau dinar. Ia orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika menjadi khalifah, Abu Bakar tetap bekerja mencari nafkah (memerah susu kambing). Abu Bakar wafat pada hari Isnin di bulan Jumadil Awwal tahun 13 Hijriyah ketika beliau berusia 63 tahun. Semoga Allah meridhai Beliau.

 

BIOGRAFI ABU BAKAR, SAHABAT PALING TERDEPAN MEMBELA RASULULLAH SAW

                   



Abu Bakar radhiallahu 'anhu (RA) bernama lengkap 'Abdullah bin Abu Quhafah atau lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau termasuk salah satu orang yang awal memeluk Islam dan khalifah pertama sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW). Nasab beliau bertemu nasabnya Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Abu Bakar adalah sahabat yang paling terdepan membela Rasulullah SAW. Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki 'ash-Shiddiq' karena saat peristiwa Isra' Mi'raj, orang-orang mendustakan kejadian itu, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkannya.

 

Keistimewan Abu Bakar telah diceritakan dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir; Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi, Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah; Al-Kaba'ir karya Adz-Dzahabi dan masih banyak kitab lainnya. Abu Bakar mendapat tempat tertinggi di sisi Rasulullah SAW. Dari Amru bin al-Ash, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil: "Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya 'Siapa manusia yang paling engkau cintai?' beliau bersabda: "Aisyah". aku berkata: 'kalau dari lelaki?' beliau menjawab: "ayahnya (Abu Bakar)". 'Lalu siapa?' Beliau menjawab: "Umar" lalu menyebutkan beberapa orang lelaki." (HR Al-Bukhari dan Muslim). "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Beliau SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) sahabatku?" Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorang pun dari kaum muslimin). (HR Al-Bukhari)

 

Kisah yang Mengharukan

 

Dalam riwayat Al-Bukhari dari Aisyah RA bahwa ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau di daerah Sunnah. Beliau turun dari tunggangannya dan kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah mulia Rasulullah yang ditutupi kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata: "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau sememangnya sudah Wafat (meninggal dunia.)"

 

Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara di hadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata: "Duduklah wahai Umar!" Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata: "Amma bad'du, barang siapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Beliau membaca firman Allah (QS Ali Imran: 144): "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

 

Sa'id bin Musayyab berkata bahwa Umar ketika itu berkata: "Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa Nabi memang benar-benar sudah wafat." Menurut ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa (upah) memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai'at menjadi khalifah, ada seorang perempuan desa berkata: "Sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami."

 

Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata: "Tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak mengubah kebiasaanku di masa lalu." Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

 

Menjadi Khalifah Pertama

 

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umrah, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. Beliau memasuki Kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar): "Ini putramu (telah datang)!" Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata: "Wahai ayahku, janganlah engkai berdiri!" Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

 

Setelah itu datanglah beberapa tokoh Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan Salam kepada Abu Bakar: "Assalamu'alaika wahai khalifah Rasulullah!" Mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata: "Wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!" Abu Bakar berkata: "Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah." Lalu Abu Bakar berkata: "Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan zalim?" Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kezaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

 

Wafatnya Abu Bakar

 

Menurut ulama ahli sejarah, Abu Bakar wafat malam selasa, antara waktu maghrib dan isya pada 8 Jumadil awal 13 H karena sakit yang dideritanya. Usia beliau saat meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma' binti Umais, isteri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mengimamkan solati jenazahnya di antara makam Nabi dan Mimbar (Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman bin Abi Bakar, Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

 

Keluarga Abu Bakar

 

Ayah: 'Utsman bin 'Amir (540– M 635), juga dikenal dengan nama Abu Quhafah. Berasal dari Bani Taim. Abu Quhafah baru menganut Islam setelah penaklukkan Makkah. Beliau meninggal beberapa bulan setelah mangkatnya Abu Bakar.

 

Ibu: Salma binti Shakhar, juga dikenal dengan sebutan Ummu al-Khair. Salma merupakan sepupu Abu Quhafah dan juga berasal dari Bani Taim. Salma termasuk orang yang telah masuk Islam sebelum Nabi Muhammad hijrah dan yang mendatangi kediaman Arqam. Beliau meninggal pada masa kekhalifahan putranya.

 

Isterinya:

 

1. Qutailah binti 'Abdul 'Uzza. Dia berasal dari suku 'Amir bin Luayy, cabang suku Quraisy di Makkah. Qutailah dan Abu Bakar bercerai beberapa saat setelah kelahiran putra mereka, 'Abdullah.

 

2. Zainab binti 'Amir (meninggal 628). Dikenal dengan sebutan Ummu Ruman. Dia berasal dari suku Al-Harits, cabang Bani Kinanah. Menikah dengan Abu Bakar setelah kematian suami pertamanya, Harits bin Sakhbarah dari Bani Azad.

 

3. Asma binti 'Umays. Secara keseluruhan, Asma menikah tiga kali. Sebelumnya Asma adalah isteri Ja'far bin Abi Thalib. Setelah Ja'far meninggal pada tahun 629, Asma menikah dengan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar meninggal, Asma mendapat Nafkah sebesar 1.000 dirham pada masa Khalifah 'Umar in Khattab. Asma kemudian bernikah dengan 'Ali bin Abi Thalib.

 

4. Habibah binti Kharijah. Berasal dari Bani Khazraj.

 

Puteranya:

 

1. 'Abdullah (sekitar 610- 633) putra dari Qutailah. 'Abdullah sendiri adalah suami kedua 'Atikah. 'Abdullah meninggal lantaran luka yang dia dapat saat pengepungan Tha'if hampir tiga tahun sebelumnya. Dia menikah dengan 'Atikah binti Zaid, seorang pujangga dari Bani 'Adi.

2. 'Abdurrahman (meninggal 666) putra dari Ummu Ruman. 'Abdurrahman masuk Islam setelah penaklukkan Makkah.

3. Muhammad (631-658) putra dari Asma. Menjadi anak angkat dari ayah tirinya, 'Ali bin Abi Thalib.

 

Puterinya:

 

1. Asma (sekitar 595-692), putri dari Qutailah. Saat ayahnya dan Nabi Muhammad bersembunyi di Gua Tsur, Asma menghantar makanan untuk mereka. Dari pernikahannya dengan Zubair bin 'Awwam, Asma memiliki seorang putra, Abdullah bin Zubair, yang menyatakan dirinya sebagai khalifah pada 683 sebagai saingan dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.

2. Aisyah (613/614- 678), putri dari Ummu Ruman. Bergelar Ummul mu'minin sebagai istri ketiga Nabi Muhammad SAW.

3. Ummu Kultsum, puteri dari Habibah. Menikah dengan Thalhah bin 'Ubaidillah.

 

Kisah Menakjubkan Ketika Abu Bakar Memeluk Islam

 

Sayyidina Abu Bakar radhiallahu 'anhu (RA) adalah sahabat yang mendapat tempat tertinggi di sisi Rasulullah SAW. Beliau termasuk orang-orang yang paling awal memeluk Islam (As-Sabiqun Al-Awwalun). Sayyidina Abu Bakar RA bernama lengkap 'Abdullah bin Abu Quhafah atau lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah keislaman Abu Bakar RA dalam Hadis keenam Kitab "Al-Mawa'izh Al-'Usfuriyah" (nasihat-nasihat ringan).

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakar RA, disebutkan bahwa beliau adalah seorang pedagang pada masa jahiliyah. Adapun sebab keislaman beliau adalah setelah bermimpi di Syam. Dalam mimpinya, beliau melihat matahari dan bulan dalam pangkuannya. Kemudian beliau mengambil keduanya dengan tangan, didekap di dadanya, dan memakaikan jubahnya kepada keduanya. Ketika Abu Bakar terjaga, beliau pergi ke Rahib Nasrani untuk menanyakan tentang mimpi itu. Beliau menceritakan mimpinya dan meminta tabir darinya. Sang Rahib bertanya, "Engkau darimana? "Beliau RA menjawab: "Dari Makkah". Dia bertanya "Dari kabilah apa? "Beliau RA menjawab: "Dari Kabilah Tamim". Sang Rahib bertanya lagi: "Apa pekerjaanmu? "Abu Bakar menjawab: "Berdagang".

 

Lalu sang Rahib berkata: "Pada masamu akan keluar seorang lelaki dari Bani Hasyim namanya Muhammad Al-Amin, dia dari kabilah Hasyim dan dia akan menjadi Nabi akhir zaman. Jika bukan karena itu, maka tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi serta isi keduanya. Dan tidaklah Allah menciptakan Adam, dan tidaklah Allah menciptakan para Nabi dan para Rasul. Dia adalah Baginda para Nabi dan para Rasul serta penutup para Nabi, dan engkau akan masuk dalam Islamnya. Engkau akan menjadi menterinya dan khalifah setelahnya. Inilah ta'bir mimpimu". Kemudian dia (rahib) berkata: "Aku mendapati perangai dan sifatnya di Taurat, Injil dan Zabur, dan sesungguhnya aku telah masuk Islam baginya dan aku menyembunyikan keislamanku karena takut dari orang-orang Nasrani".

 

Ketika Abu Bakar mendengar penjelasan rahib itu tentang sifat Nabi SAW, luluhlah hatinya dan rindu mengunjungi Nabi Muhammad SAW. Kemudian Abu Bakar kembali ke Makkah dan mencari Nabi Muhammad SAW dan akhirnya bertemu Baginda. Abu Bakar menyukai Nabi SAW dan tidak sabar walau sesaat memandang wajah Nabi SAW. Setelah sekian lama, suatu hari Rasulullah SAW berkata padanya: "Wahai Abu Bakar, setiap hari engkau datang kepadaku dan duduk bersamaku, mengapa engkau tidak masuk Islam?" Abu Bakar RA menjawab, "Andai kata engkau adalah seorang Nabi, maka engkau harus memiliki mukjizat ".

 

Nabi SAW bersabda: "Tidakkah cukup bagimu mukjizat yang telah engkau lihat di Syam dan telah dita'birkan oleh Rahib tersebut, dan dia telah mengkabarkan mu tentang keislamannya". Mendengar ucapan Rasulullah itu, Abu Bakar RA langsung berkata: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan bahwa engkau (Muhammad) adalah utusan Allah". Abu Bakar pun memeluk Islam dan memperbagus keislamannya.

 

Menurut ulama ahli sejarah, Abu Bakar wafat malam Selasa, antara waktu Maghrib dan Isya pada 8 Jumadil awal 13 H karena sakit yang dideritanya. Usia beliau saat meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah.

 

Amalan yang Menebus Sebagian Dosa

 


Dalam kitabnya, Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menukil sebuah hadis Nabi SAW. Dari Abu Nashr Al-Wasithy berkata, aku mendengar Abu Roja Al-Athoridy meriwayatkan hadis dari Abu Bakar Shiddiq RA, bahwasannya seorang badui datang kepada Nabi SAW, dia berkata: "Telah sampai padaku darimu bahwa engkau bersabda dari Jumaat ke Jumaat dan dari salat ke salat adalah tebusan dosa di antara keduanya bagi orang yang menghindari dosa-dosa besar".

 

Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Benar". Kemudian Beliau SAW bersabda lagi: "Mandi di hari Jumat adalah tebusan dosa, berjalan menuju salat Jumaat adalah tebusan dosa. Setiap langkah dari menuju salat Jumaat seperti beramal dua puluh tahun, maka bila telah selesai salat Jumaat dia dibalas dengan semisal amalan dua ratus tahun".

 

Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku

 

Dari Hudzaifah radliyallahu'anhu berkata: 'Kami duduk-duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup bersama kalian, oleh karena itu teladanilah dua orang sepeninggalku (sambil menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab)". (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3596). Mereka adalah sebaik-baik generasi manusia, sebagaimana dalam sabda Rasulullah: "Sebaik-baik umatku adalah yang orang-orang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka." (HR. Al-Bukhari No. 3377).

 

Para Khalifah yang mulia (Al-Khulafa' al Rasyidun) merupakan golongan paling istimewa di antara para sahabat Nabi. Mereka pemilik keutamaan yang sempurna. Ucapan mereka adalah kebenaran. Pakaian mereka adalah kesederhanaan. Langkah mereka adalah kerendahhatian. Akal mereka sangat tajam dan dipenuhi lautan ilmu. Dari empat Khulafaur Rasyidin, ada dua sahabat yang merupakan khalifah adil dan wara'. Keduanya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu'anhuma. Setelah itu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhuma.

 

Dari Sayyidah Aisyah RA dikisahkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya, "Sebutkan kepadaku ciri-ciri fizik Abu Bakar itu!" Aisyah menjawab: "Ia adalah seorang laki-laki yang berkulit putih, kurus, dan kedua pipinya tipis, serta tulang pipinya agak menonjol. Ia tidak pernah mengikat kainnya dan dibiarkan menggantung di pinggangnya. Wajahnya selalu berkeringat, kedua matanya agak cekung, keningnya lonjong, jari-jarinya selalu terbuka" itulah ciri-ciri fisik Abu Bakar RA.

 

Pujian Rasulullah SAW terhadap Abu Bakar, beliau pernah bersabda: "Setiap aku mengajak seseorang untuk memeluk Islam, pasti ia ragu dan meminta waktu untuk mempertimbangkan. Kecuali Abu Bakar. Ia langsung menerima tanpa ragu sedikit pun" (Baca Juga: Abu Bakar, Sahabat Nabi yang Memiliki 16 Keutamaan) Menurut keterangan Said bin Musyab bahwa Abu Bakar dilantik menjadi khalifah di hari Rasulullah wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 H bertepatan 7 Mei Tahun 633 Masehi. Di awal kepemimpinannya, Abu Bakar berhasil menumpas gerakan orang-orang munafik dari kalangan muslim. Saat pemerintahannya banyak yang murtad, tidak mau membayar zakat bahkan munculnya para nabi palsu. Beliau berhasil membasmi gerakan nabi palsu Tulayhah dan Musailamah.

 

Akhir hayat Abu Bakar menurut ulama ahli sejarah, beliau wafat malam selasa, antara waktu maghrib dan isya pada 8 Jumadil awal 13 H karena sakit yang dideritanya. Usia beliau saat meninggal dunia 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan Asma' binti Umais, istri beliau dan dimakamkan di samping jasad Rasulullah SAW yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

KEUTAMAAN UMAR BIN KHATTAB

 

Nama lengkapnya Umar Ibn Khattab Ibn Nufail Ibn 'Abdul 'Uzza Ibn Riyah Ibn 'Abdullah Ibn Qurth Ibn ‘Abdi Ibn Ka'ab dari Bani Addiy. Beliau lahir di Makkah empat tahun sebelum terjadinya Perang Fijar atau sekitar tahun 583 M, riwayat lain menyebut tahun 581 M. Umar bin Khattab lebih muda 13 tahun dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau berasal dari lingkungan keluarga yang tidak beragama Islam (saat itu kaum musyrikin Makkah).

 

Gambaran fizik Umar adalah laki-laki berkulit coklat. Kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan kedua tangannya, memiliki tubuh yang kuat, tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Jika berada di kerumunan, dia nampak seolah sedang menunggangi sesuatu. Beliau berkumis lebat, jalannya cepat, suaranya besar, dan pukulannya amatlah keras. Apabila naik ke atas kuda beliau hanya berpegang pada telinga kuda. Umar merupakan salah satu orang terpandang dan pemuka kaum Quraisy. Umar sering dipercaya sebagai juru damai apabila terjadi peperangan antar sesama kaum Quraisy atau antara suku Quraisy dengan yang lain. Ketika Umar bersyahadat di depan Nabi Muhammad shalllallahu 'alaihi wa sallam, penduduk Makkah gempar. Kaum musyrikin tiba-tiba ketakutan dan terpojok. Allah Ta'ala menguatkan dakwah Islam dengan keberadaan Umar yang gagah dan bijaksana.

 

Ketika diangkat menjadi Khalifah kedua menggantikan Abu Bakar, kepemimpinan Umar dikenal adil dan tegas. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat. Beliau berhasil mensejahterakan kaum muslimin. Selama 10 tahun memimpin (13 H/634 M - 23 H/644 M), Umar juga berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan Imperial Romawi dan Persia. Beliau merebut Baitul Maqdis Palestina dari kekuasaan Romawi.

 

Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan syaitan pun takut apabila bertemu Umar bin Khattab. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Ibnul Khatthab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah syaitan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui." Dalam hadis lain, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sungguh aku melihat syaitan dari kalangan manusia dan jin lari dari Umar." (HR. Tirmidzi). Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kami senantiasa merasakan izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) sejak Umar masuk Islam."

 

Dalam Sahih Al-Bukhari, Nabi berkata: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku di surga kemudian ada seorang wanita yang wudhu di sisi istana, aku berkata: ‘Istana siapakah ini?’ Wanita itu berkata: ‘Ini milik Umar.’ Aku teringat akan kecemburuan Umar dan aku berbalik untuk pergi. Kemudian, Umar menangis dan berkata, ‘Mungkinkah aku cemburu padamu, Rasulullah?

 

Akhir hayat Umar bin Khattab wafat pada Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 Hijriyah dalam usia 63 tahun. Beliau dibunuh saat memimpin salat Shubuh oleh seorang Majusi bernama Abu Lu'luah (Fairuz), seorang budak Al-Mughirah bin Syu'bah Fairuz. Penikaman Umar dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lu'luah terhadap Umar karena sakit hati. Jasad mulia Umar dimakamkan di samping makam Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar Shiddiq. Setelah beliau wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Utsman bin Affan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Allah telah menempatkan kebenaran di lidah Umar dan di dalam hatinya". (HR At-Tirmidzi)

 

Baginda Nabi SAW juga bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan seperti puak Syiah) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya." (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3797).

 

Biografi Umar Bin Khattab, Khalifah Kedua yang Menaklukkan Romawi dan Persia

 

Siapa yang tak kenal Umar bin Khattab? Khalifah kedua menggantikan Abu Bakar Ash-Shidiq yang dijuluki Al-Faruq oleh Rasulullah SAW karena bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Di tangannyalah peradaban Islam mulai eksis dan menyebar ke berbagai wilayah. Berikut biografi Khalifah kedua Umar Bin Khatab yang dikutip dari www.infobiografi.com:

 

Biografi Singkat:

 

Nama: ‘Umar bin al-Khattab

Lahir: 583 M Mekkah, Jazirah Arab

Wafat: 25 Dzulhijjah 23 Hijriyah (3 November 644 Masehi)

Makam: Sebelah kiri makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah

Gelar: al-Faruq (pemisah antara yang benar dan batil),

Amirul Mu`miniin (pemimpin orang-orang beriman)

Pendahulu: Abu Bakar Ash-Shidiq

Pengganti: Utsman bin Affan

 

Profail Umar bin Khattab

 

Umar bin al-Khattab lahir di Mekkah dari Bani Adi yang masih satu rumpun dari suku Quraisy dengan nama lengkap Umar bin al-Khattab bin abdul Uzza. Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi. Umar bin Khattab dikenal memiliki fizik yang kuat, bahkan ia menjadi juara gusti di Mekkah. Umar tumbuh menjadi pemuda yang disegani dan ditakuti pada masa itu. Beliau memiliki watak yang keras hingga dijuluki sebagai “Singa Padang Pasir”. Beliau termasuk pemuda yang amat keras dalam membela agama tradisional Arab yang saat itu masih menyembah berhala serta menjaga adat istiadat mereka.

 

Sebelum memeluk Islam beliau dikenal sebagai peminum arak berat, namun setelah menjadi muslim Beliau tidak lagi menyentuh alkohol (khamr) sama sekali, meskipun saat itu belum diturunkan larangan meminum khamr secara tegas.

 

Memeluk Islam

 

Pada masa itu, ketika Nabi Muhammad menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadap Nabi. Umar juga termasuk orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi Muhammad SAW. Pada puncak kebenciannya terhadap Nabi Muhammad SAW, Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi. Namun dalam perjalanannya, Umar bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi yang bernama Nu’aim bin Abdullah dan memberikan kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam. Karena kabar tersebut, Umar menjadi terkejut dan kembali ke rumahnya dengan maksud untuk menghukum adiknya. Dalam riwayatnya, Umar menjumpai saudaranya yang kebetulan sedang membaca Alquran surat Thoha ayat 1-8, Umar semakin marah dan memukul saudarinya.

 

Namun, Umar merasa hiba ketika melihat saudarinya berdarah akibat pukulannya, beliau kemudian meminta agar ia melihat bacaan tersebut. Beliau menjadi sangat terguncang oleh isi Alquran, dan beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk agama Islam. Keputusan tersebut membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seorang yang terkenal memiliki penantangan yang keras dan paling banyak menyiksa pengikut Nabi Muhammad SAW kemudian memeluk ajaran yang sangat di bencinya. Akibatnya, Umar disisihkan dari pergaulan Mekkah dan ia tidak lagi dihormati oleh para petinggi Quraisy.

 

Hijrah ke Madinah

 

Pada tahun 622, Umar ikut bersama Nabi Muhammad SAW serta para pegikutnya berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Umar juga terlibat dalam perang Badar, perang Uhud, perang Khaybar serta penyerangan ke Syria. Umar bin Khattab dianggap sebagai orang yang disegani oleh kaum muslimin pada masa itu selain karena reputasinya pada masa lalu yang memang terkenal sudah terkenal sejak masa memeluk Islam. Umar juga dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam pada kesempatan yang ada. Bahkan beliau tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama sama ikut menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW.

 

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

 


Suasana sedih dan haru menyelimuti Kota Madinah, pada saat kabar wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 8 Jun 632 M (12 Rabiul Awal 10 Hijriah). Umar merupakan salah seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, beliau menghambat siapapun yang akan memandikan dan menyiapkan jasad Baginda untuk pemakaman. Umar terkejut, beliau lantas berkata: “Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat. Sesungguhnya Beliau tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti yang dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah Beliau benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa baginda wafat, kaki dan tangannya akan ku potong,”.Umar melakukan hal tersebut karena kecintaanya Nabi. Namun di waktu bersamaam Abu Bakar datang menasihati Umar dengan menyampaikan pesan Alquran. Inilah ayat yang menyadarkan Umar. “Amma Ba’du, barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah hidup dan takkan pernah mati." Allah berfirman, "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran 144)

 

Menjadi Khalifah Kedua

 

Pada masa Abu Bakar menjadi seorang khalifah, Umar bin Khattab menjadi salah satu penasehat kepalanya. Setelah Abu Bakar meninggal pada tahun 634, Umar bin Khattab ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam. Selama di bawah pemerintahan Umar bin Khatab, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan Persia dari tangan dinasti Sassanid, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari ke Kaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya iaitu Persia dan Romawi, namun keduanya telah di taklukkan oleh ke Khalifahan Islam dibawah pimpinan Umar bin Khatab.

 

Umar bin Khattab melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Umar memerintahkan agar diselenggarakan sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Pada tahun 638, Umar memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Umar bin Khattab dikenal memiliki kehidupan sederhana. Beliau tidak mengadoptasi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, beliau tetap hidup sangat sederhana. Sekitar tahun ke-17 Hijriah yang merupakan tahun ke-4 ke khalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa haribulan dalam Islam hendaklah dimulakan dihitung saat peristiwa Hijriah.

 

Wafatnya Umar bin Khattab

 

Umar bin Khatab wafat karena dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz) yang merupakan seorang budak yang fanatik pada saat Umar akan memimpin salat subuh. Diketahui Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan oleh Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam Fairuz terhadap Umar bin Khatab, Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia yang pada masa itu merupakan negara Adidaya. Umar bin Khatab wafat pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 Hijriyah/644 M. Setelah wafat, jabatan Khalifah dipegang oleh Ustman bin Affan.

 

Kisah Mengharukan Umar Bin Khattab Masuk Islam

 

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581- November 644) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga khalifah kedua Islam (634-644). Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW.

 

Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Umar dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Nasab Umar bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek. Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin. Ia bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya dan melakukan perbuatan-perbuatan jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Umar masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

 

Dikisahkan, suatu malam Umar datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan salat Rasulullah SAW. Waktu itu Rasulullah membaca surat Al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Alquran bukan syair). Lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Alquran bukanlah perkataan dukun) akhirnya beliau berkata, “Telah terdetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

 

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah SAW. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menemplak, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

 

Kemudian dia bergegas mendatangi saudara perempuannya yang sedang belajar Alqur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Saudaranya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan itu Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudara perempuannya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya. Ketika melihat wajah saudaranya berdarah, Umar menjadi hiba kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.

 

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah. Ketika Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, “Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.”

 

Waktu itu, Rasulullah SAW sedang berada di rumahnya.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

 

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.” Inilah kisah Umar Bin Khattab yang mendapat hidayah berkat doa Rasulullah SAW. Doa itu dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu tiang kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal dunia sebagai Abu Jahal.

 

Kisah Umar dan Wabah Penyakit Tho'un di Syam

 

Wabah penyakit merupakan hal yang sangat ditakuti manusia sebagaimana virus Covid19 yang menyebabkan kematian di negeri China. Wabah virus ini kini menjadi perhatian dunia termasuk Negara-negara di Asia Tenggara. Di zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat juga pernah mengalami musibah wabah penyakit. Seperti yang terjadi di Kota Madinah tahun ke-6 Hijriyah, kaum muslim Madinah terkena wabah penyakit tho'un (sejenis wabah penyakit corela). Namun, Allah Ta'ala menjaga Madinah berkat doa Rasulullah SAW. Pertistiwa wabah tha'un di Madinah hanya terjadi sekali saja.

 

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu (RA), wabah penyakit tho'un juga pernah menjangkiti negeri Syam. Dalam peritiwa itu sekitar 20,000 orang lebih meninggal dunia. Kisah ini diceritakan dalam Hadis Shahih Muslim. Wabah penyakit Tha'un juga pernah terjadi pada masa Ibnu Zubair, iaitu pada bulan Syawal tahun 69 Hijriyah. Dalam kejadian itu ribuan orang meninggal dunia. Dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah, "Suatu ketika Umar bin Khatthab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka 'Abdurrahman bin 'Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) telah bersabda: 'Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.' Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah; bahwa Umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar Hadits Abdurrahman bin Auf". (Shahih Muslim No. 4115). Inilah konsep kawalan pergerakan bersepadu (PKP) yang diambil diseluruh dunia bagi membendung kawalan penyakit berjangkit sedangkan umat islam telah berkurun lamanya telah mengamalkan konsep ini. Insyaallah kita akan menang !

 

Sikap Umar Menghadapi Wabah Penyakit Tho'un

 

Ketika Umar pergi ke Syam, setelah sampai di Saragh, pimpinan tentara datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu "Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada 'Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Ibnu Abbas berkata; 'Umar berkata; 'Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang Muhajirin! '

 

Maka kupanggil mereka, lalu 'Umar bermusyurah dengan mereka. Kata 'Umar; 'Wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Bagaimana pendapat kalian? 'Mereka berbeda pendapat. Sebagian mengatakan kepada 'Umar; 'Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.' Sebagian lain mengatakan; 'Anda datang membawa rombongan besar yang di sana terdapat para sahabat Rasulullah SAW. Kami tidak sependapat jika Anda menghadapkan mereka kepada wabah penyakit ini.' Umar berkata: 'Pergilah kalian dari sini! 'Kemudian 'Umar berkata lagi: 'Panggil ke sini orang-orang Anshar! '

 

Maka aku memanggil mereka, lalu Umar bermusyurah dengan mereka. Ternyata kebijaksanaan mereka sama dengan orang-orang Muhajirin. Mereka berbeda pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Maka kata 'Umar; 'Pergilah kalian dari sini! 'Kata Umar selanjutnya; 'Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah!' Maka aku (Ibnu Abbas) memanggil mereka. Ternyata mereka semuanya sependapat, tidak ada perbedaan. Kata mereka; 'Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang saja kembali bersama rombongan Anda dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini. Lalu Umar menyerukan kepada rombongannya "Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian!"

 

Kemudian Abu 'Ubaidah bin Jarrah bertanya; "Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?" Umar menjawab: 'Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu 'Ubaidah? Agaknya Umar tidak mau berdebat dengannya. Beliau menjawab: "Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?"

 

Di tengah perbincngan Umar dengan Abu 'Ubaidah tiba-tiba datang sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin 'Auf yang belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata: "Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri." Mendengar itu, akhirya Umar mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu beliau pergi. Di dalam Hadis Ma'mar ada tambahan Umar berkata: "Bukankah jika kamu mengembalakan unta di tempat yang tandus dengan meninggalkan tempat yang subur berarti kamu telah membuatnya lemah? Ketika itu Abu Ubaidah menjawab: "Ya." Kemudian Umar berkata: maka berangkatlah! Maka Abu Ubaidah berangkat hingga sampai di Madinah, lalu dia berkata: "InsyaAllah ini adalah tempat tinggal." (Shahih Muslim No. 4114)

 

Penjelasan Nabi Soal Wabah Tha'un

 

Dari 'Amir bin Sa'ad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia ('Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah bin Zaid: "Apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah SAW tentang masalah tha'un (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?" Maka Usamah berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Tha'un adalah sejenis kotoran (siksa) yang ditimpakan kepada satu golongan dari Bani Isra'il atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya". (Shahih Al-Bukhari No. 3214). Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda: "Tha'un (wabah corela) adalah semacam azab (siksaan) yang diturunkan Allah kepada Bani Israil atau kepada umat yang sebelum kamu”.

 

Perintah Nabi untuk Menutup Bejana

 

Dari Jabir bin 'Abdullah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tutuplah bejana-bejana, dan ikatlah tempat-tempat minuman, karena di suatu malam pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit (berbahaya) yang akan jatuh ke dalam bejana dan ke tempat-tempat air yang tidak tertutup." Dan telah menceritakan kepada kami Nashr bin 'Ali Al Jahdlami; Telah menceritakan kepadaku Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa'd dengan Hadis dan sanad yang serupa, hanya saja dia berkata dengan kalimat "Karena di suatu hari pada setiap tahunnya akan ada wabah penyakit". Dia juga menambahkan pada akhir Haditsnya; Al laits berkata: "Orang-orang ajam (selain orang arab) di antara kami merasa takut pada hal itu sejak bulan pertama.' (Shahih Muslim No. 3758)

 

Wabah Tha'un merupakan penyakit yang mematikan pada masa Rasulullah dan para sahabat. Namun, Nabi memberi kabar gembira bagi mereka yang pernah terkena penyakit ini. Beliau bersabda: "Bahwa ada suatu azab yang Allah mengutusnya (untuk) menimpa kepada seseorang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin. Tidaklah bagi seseorang yang tertimpa tha'un kemudian ia berdiam diri di wilayahnya itu dengan sabar dan ia menyadari bahwa tha'un itu tidak akan menimpa kecuali telah ditetapkan Allah, kecuali ia memperoleh pahala bagaikan orang mati syahid. (HR. Al-Bukhari dari 'Aisyah RA).

 

Sepuluh Karomah Sayyidina Umar al Khattab ra.

 

Khalifah kedua Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu adalah sahabat Nabi yang patut diteladani. Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam menjuluki beliau Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan syaitan pun lari apabila bertemu Umar bin Khattab. Gambaran fizik Umar adalah laki-laki berkulit coklat. Kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan kedua tangannya, memiliki tubuh yang kuat, tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Jika berada di kerumunan, dia nampak seolah sedang menunggangi sesuatu.

 

Ketika diangkat sebagai Khalifah menggantikan Abu Bakar ASh-Shiddiq, kekuasaan Islam tumbuh pesat. Selama 10 tahun memimpin (13 H/634 M - 23 H/644 M), Khalifah Umar berhasil membebaskan negeri jajahan Romawi dan Persia dan merebut Baitul Maqdis (Palestina) dari kekuasaan Romawi. Dibalik keberhasilannya menjabat khalifah sekaligus Amirul Mukminin, Sayyidina Umar memiliki karomah yang luar biasa. Ada 10 karomah (kelebihan dan kemuliaan) yang Allah berikan kepada Umar bin Khattab. Berikut karomahnya:

 

1. Berbicara dengan Ahli Kubur.

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan (bab tentang kubur) bahwa ketika Umar bin Khattab RA melewati pemakaman Baqi' di Madinah, beliau mengucapkan salam, "Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, wahai para penghuni kubur. Aku kabarkan bahwa isteri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah dibagi". Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut, "Hai Umar bin Khattab , aku kabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan".

 

Yahya bin Ayyub al-Khaza'i menceritakan bahwa Umar bin Khattab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, "Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga (QS Al-Ralunan [55]: 46). Dari dalam kubur pemuda itu, terdengar suara: "Hai Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga". (Riwayat Ibnu 'Asakir)

 

2. Dijuluki Sebagai Legenda.

Al Taj al-Subki mengemukakan salah satu karamah Khalifah Umar bin Khattab RA sebagaimana dalam sabda Nabi yang berbunyi, "Di antara umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah Umar".

 

3. Berbicara dengan Sariyah yang Saat Itu Memimpin Perang Melawan Persia di Nihawan.

Diceritakan bahwa Umar bin Khattab mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai panglima perang kaum muslimin ketika menyerang Persia. Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah, Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah khutbahnya, Umar berseru dengan suara lantang: "Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh serigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!" Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat mendengar suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, "Itu suara Khalifah Umar ". Akhirnya mereka selamat dan mendapatkan kemenangan.

 

Al-Taj al-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah Umar lalu ia ditanya, "Apa maksud perkataan Khalifah Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?" Ali menjawab, "Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." Dan setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui umat muslimin di Madinah, maksud perkataan Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas.

 

Menurut al Taj al-Subki, Khalifah Umar tidak bermaksud menunjukkan karamahnya. Tetapi Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nihawan dapat melihatnya dengan mata mereka, seolah-olah Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah, sementara seluruh pancaindranya merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan. Sariyah berbicara dengan Umar seakan-akan sedang bersamanya.

 

4. Menghentikan Goncangan Bumi Saat Terjadi Gempa.

Dalam Kitab al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah Umar ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ketika itu, Umar mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Kemudian Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata: "Tenanglah wahai bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu." Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnya Umar adalah Amirul Mmukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya. Sehingga Umar mampu memerintahkan dan menghentikan gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi.

 

5. Mengalirkan Sungai Nil Saat Dilanda Musim Kemarau

Imam al-Haramain mengemukakan ketika sungai Nil tidak mengalir, penduduk Mesir melakukan ritual jahiliyah dengan melemparkan seorang perawan ke dalam sungai tersebut setiap tahunnya. Penduduk Mesir melaporkan hal itu kepada 'Amr bin Ash yang saat itu menjabat gubnur Mesir. Kemudian 'Amr bin Ash berkata kepada mereka, "Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut." Kala itu penduduk Mesir mengalami penderitaan selama tiga bulan karena mengeringnya sungai Nil.

 

'Amr menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa itu. Kemudian Umar membalas surat tersebut dan menyatakan: "Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil," Kemudian 'Amr membuka kertas itu sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas itu berisi tulisan Khalifah Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan: "Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir". Kemudian 'Amr melempar kertas itu ke sungai Nil. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, Allah Ta'ala mengalirkan sungai Nil enam belas hasta (lebih kurang 24 kaki) dalam semalam.

 

6. Mengetahui Pembunuh Sahabat Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhuma.

Imam al-Haramain menceritakan karamah Khalifah Umar lainnya. Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga Umar berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi Umar untuk ketiga kalinya dan Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam kelompok orang tersebut terdapat pembunuh sahabat Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhuma.

 

7. Mengetahui Orang yang Hendak Berdusta.

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi mengemukakan bahwa Abdullah bin Umar RA berkata, "Setiap kali Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar". Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah 'Ala al-'Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam Kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab itu dikemukakan karamah Umar lainnya iaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu Umar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kepada Umar , lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, "Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam".

 

8. Mengetahui Musibah Kebakaran.

Diceritakan bahwa Khalifah Umar bertanya kepada seorang laki-laki, "Siapa namamu?" Orang itu menjawab, "Jamrah (artinya bara)." Khalifah Umar bertanya lagi, "Siapa ayahmu?" Ia menjawab, "Syihab (lampu)". Umar bertanya, "Keturunan siapa?" Ia menjawab, "Keturunan Harqah (kebakaran)". Umar bertanya, "Di mana tempat tinggalmu?" Ia menjawab, "Di Al Harrah (panas)." Umar bertanya lagi, "Daerah mana?" Ia menjawab, "Di Dzatu Lazha (tempat api)". Kemudian Umar berkata, "Aku melihat keluargamu terkena musibah kebakaran". Pemuda itu pun akhirnya pulang dan mendapati keluarganya sedang ditimpa musibah kebakaran".

 

9. Dapat Memadamkan Kebakaran di yang Melanda Sebuah Kampung.

Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa salah satu kampung di Madinah dilanda kebakaran. Kemudian Umar menulis di secarik kain, "Hai api, padamlah dengan izin Allah!" Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam.

 

10. Utusan Romawi Masuk Islam.

Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap Umar. Utusan itu mencari rumah Umar dan mengira rumah Umar seperti istana para raja. Orang-orang mengatakan, "Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu". Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat Umar telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah.

 

Terperanjatlah utusan itu melihat Umar, lalu berkata, "Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini. Dalam hati ia berjanji akan membunuh Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa. Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam. Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin.

 

Demikian ulasan karomah Sayyidina Umar bin Khattab, semoga kita bisa mengambil hikmah dan bisa meneladani kepemimpinan beliau. Sangatlah jauh bezanya dengan para pemimpin zaman sekarang yang amat rakus dengan harta rakyat. Tergila-gila kuasa semata-mata kerana mengejar kesenangan dunia dan rasuah walaupun mereka itu semuanya beragama Islam tampa ada rasa malu. Seolah-olah telah menjadi budaya bagi semua pemimpin-pemimpin kita memakan rasuah, membolot harta kerajaan, menyeksa rakyat dengan cukai yang melampau dan sanggup merompak tabung-tabung wang rakyat bagi kemewahan diri mereka dan kuncu-kuncu mereka. Kita tunggu saja apa kesudahan hidup mereka didunia ini atau kita lihat nanti dialam akhirat. Semoga Allah membalas semua perbuatan mereka dengan azab yang berganda-ganda.

 

PERBEZAAN ANTARA KARAMAH DAN MUKJIZAT

 


Banyak ulama membahas perbedaan antara Karamah dan Mukjizat. Salah satunya Imam Abu Ishaq Al-Asfaraini (wafat 418 Hijriyah) yang menyatakan bahwa Mukjizat adalah tanda-tanda kebenaran Para Nabi dan dalil kenabian yang hanya ada pada Nabi. Sedangkan waliyullah memiliki Karamah seperti terkabulnya doa, tetapi mereka tidak memiliki Mukjizat sepertiyang dimiliki para Nabi. Imam Abu Bakar bin Faurak menyatakan bahwa Mukjizat adalah tanda-tanda kebenaran. Jika pemilik Mukjizat mengaku sebagai Nabi maka Mukjizatnya itu menunjukkan kebenaran pengakuannya. Jika pemilik Mukjizat mengaku sebagai waliyullah, maka mukjizatnya itu menunjukkan kebenaran pengakuannya, tetapi hal itu disebut Karamah, bukan Mukjizat.

 

Meskipun serupa dengan Mukjizat, tetapi memiliki perbedaan yang nyata. Al-Qusyairi mengemukakan pendapat orang yang paling ahli dalam bidang Mukjizat pada masanya iaitu Al-Qadhi Abu Bakar al-Asy'ari yang menyatakan, "Mukjizat dikhususkan bagi para Nabi, sedangkan Karamah untuk para wali. Para wali tidak memiliki mukjizat, karena di antara syarat-syarat Mukjizat adalah jika kejadian-kejadian luar biasa itu dibarengi dengan pengakuan kenabian. Kejadian luar biasa tidak disebut Mukjizat hanya karena bentuknya saja, tetapi disebut Mukjizat karena adanya banyak syarat yang dipenuhinya, jika ada satu saja syarat yang tidak terpenuhi, maka itu bukan Mukjizat. Satu dari beberapa syarat mukjizat adalah pengakuan kenabian, sedangkan wali tidak menyatakan pengakuan kenabian, jadi yang muncul darinya bukanlah Mukjizat." Al-Qusyairi (ulama besar tasawuf lahir 376 Hijriyah) menegaskan, "Pendapat inilah yang kami pegang dan ungkapkan, bahkan kami meminjamnya. Semua syarat Mukjizat atau sebagian besarnya ada dalam Karamah, kecuali syarat pengakuan kenabian saja."

 

WALI TIDAK DIPERINTAH MEMOHON KARAMAH

 

Al-Qusyairi mengungkapkan bahwa Karamah adalah peristiwa yang mungkin terjadi, karena tidak ada sesuatu yang dahulu khusus ada pada seseorang, bertentangan dengan kebiasaan dan tampak pada masa taklif. Muncul pada seorang hamba sebagai bentuk pengkhususan dan pengutamaan. Kadang sebagai hasil dari ikhtiar dan doanya, namun kadang bukan karena ikhtiar. Wali tidak diperintah untuk memohon karamah bagi dirinya. Al-Qusyairi berkata, "Tidak setiap karamah yang dimiliki seorang wali wajib dimiliki oleh seluruh wali. Bahkan meskipun seorang wali tidak memiliki Karamah secara lahiriah di dunia, hal tersebut tidak mempengaruhi kedudukannya sebagai wali. Berbeda dengan para Nabi yang harus memiliki Mukjizat, karena mereka diutus kepada manusia yang harus mengetahui kebenarannya, dan tidak ada jalan lain kecuali dengan Mukjizat. Sebaliknya kedudukan sebagai wali tidak harus diketahui oleh orang lain."

 

Masih menurut Al-Qusyairi, sesungguhnya seorang wali tidak merasa senang dengan Karamah yang muncul pada dirinya, tidak juga memiliki perhatian yang besar kepadanya. Ketika muncul karamah padanya, keyakinannya semakin kuat dan mata hatinya semakin tajam untuk menegaskan bahwa Karamah adalah karunia Allah. Dengannya mereka memperoleh bukti kebenaran akidah yang diyakininya. Singkatnya kemunculan Karamah pada para wali adalah wajib, begitu juga menurut kebanyakan ahli Ma'rifat. Dan karena banyaknya riwayat mutawatir tentang eksistensi karamah, baik berupa kabar maupun hikayat, maka keyakinan dan pengetahuan tentang adanya karamah pada para wali tidak diragukan lagi. Barangsiapa bersikap moderat terhadap masalah Karamah, didukung dengan hikayat dan kabar mutawatir, maka ia tidak akan meragukan Karamah.

 

Al-Qusyairi kemudian mengemukakan bahwa di antara dalil-dalil dari pendapat di atas adalah nash Al-Qur'an tentang sahabat Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang berkata: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana (Balqis) kepadamu sebelum matamu berkedip". (QS Al-Naml [27]: 40). Padahal ia bukan seorang Nabi. Juga riwayat tentang Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang tiba-tiba berkata, "Hai para kabilah di atas gunung!" Padahal ia sedang menyampaikan khutbah Jumaat, suara Umar didengar oleh pasukan Islam yang berada di gunung, sehingga mereka selamat dari tempat persembunyian musuh di gunung saat itu.

 

Bagaimana mungkin diperbolehkan melebihkan Karamah para wali di atas Mukjizat para Nabi. Dan bolehkah mengutamakan para wali di atas para Nabi? Menurut Al-Qusyairi, karamah para wali terkait dengan Mukjizat Nabi Muhammad saw, karena setiap orang yang tidak jujur dan sungguh-sungguh dalam Islamnya maka ia tidak akan mampu memunculkan karamah. Setiap Nabi yang memunculkan karamahnya kepada salah seorang umatnya, maka karamah itu termasuk Mukjizatnya. Jika seorang Rasul tidak mempercayai umatnya, maka tidak akan muncul Karamah pada umatnya. Adapun tingkatan para wali tidak akan menyamai tingkatan para Nabi berdasarkan dalil ijma' (kesepakatan ulama).

 

Mengenai hal ini, Al-Qusyairi menjelaskan bahwa Karamah terkadang berupa terkabulnya doa, munculnya makanan ketika dibutuhkan tanpa sebab yang jelas, ditemukannya air ketika haus, kemudahan menempuh jarak dalam waktu sekejap, terbebas dari musuh, mendengar percakapan tanpa rupa, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan kebiasaan.

 

Sumber: Kitab "Jami' Karamat Al-Aulia" karya Yusuf bin Ismail an-Nabhani

 

INILAH PUJIAN ULAMA KEPADA IMAM AL-GHAZALI

                                          

Imam Al-Ghazali adalah tokoh ulama besar, ahli fiqih dan tasawuf yang dikagumi banyak ulama dan kaum muslimin. Beliau dijuluki mujaddid (pembaharu) abad kelima Hijriyah, Banyak ulama memuji beliau sebagaimana diulas dalam buku "Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali" karya Ustaz Wildan Jauhari. Imam Al-Ghozali bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid at-Thusi as-Syafi'i. Nama beliau dinisbahkan kepada pekerjaan ayahnya seorang pemintal (Al-Ghozzal) dan peniaga wol (benang bulu kambing dan biri-biri). Ada juga yang menyebutkan bahwa nama itu disandarkan kepada kampung halaman Beliau (Ghozalah).

 

Imam Ghozali lahir di Kota Thus pada tahun 450 H, dan wafat di kota yang sama pada Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, pada usia 55 tahun. Dari berbagai karya Imam Al-Ghazali itu, Kitab Ihya Ulum ad-Diin menjadi karya paling bersinar di antara karya-karyanya. Kitab ini disebut sebagai karya beliau paling fenomen. Terkenal di Timur maupun di belahan Barat.

 

Ulama-ulama yang Memuji Imam Al-Ghozali:

 

1. Imam Ibnu Asakir. Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Asakir berkata: "Abu Hamid Al-Ghazali adalah seorang mujaddid abad ke lima hijriyah."

 

2. Imam Ibnu Al-Jauzi.

Al-Imam Ibnu Al-Jauzi berkata: "Al-Ghazali telah banyak menulis buku dalam bidang ushul fiqih dan fiqih. Sulit mencari padanannya dalam hal qualitinya, runutnya sistematika dan validitas sumber-sumbernya".

 

3. Imam As-Subki.

Al-Imam as-Subki dalam Kitabnya Thobaqat as-Syafi’iyah al-Kubro mengutip perkataan As'ad Al-Mihani: "Hanya seorang yang sempurna akalnya (atau yang mendekati sempurna) yang mampu memahami keluasan ilmu dan keutamaan Imam Al-Ghazali. Muhammad bin Yahya, salah seorang murid senior Imam memuji kehebatan gurunya itu dengan berkata, "Al-Ghazali adalah Syafi'i kedua."

 

4. Imam Adz-Dzahabi.

Al-Imam adz-Dzahabi mengutip perkataan Ibnu an-Najjar di dalam Kitabnya Siyar A'lam an-Nubala: "Abu Hamid (Al-Ghazali) adalah seorang pemimpin ahli fiqih, orang yang alim, seorang mujtahid pada zamannya, tokoh besar pada masanya. Beliau adalah seorang yang sangat cerdas, kuat dan begitu dalam pemahamannya.”

 

5. Abdul Ghafir Al-Farisi.

Al-Imam Al-Hafidz Abdul Ghafir Al-Farisi berkata: "Abu Hamid Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam dan kaum muslimin. Seorang pemimpin agama. Belum ada yang menyamainya dalam hal kefasihan, pemahaman, pemikiran, kecerdasan, dan akhlak perangai."

 

6. Imam An-Nawawi.

Al-Imam Nawai pun ikut memuji beliau dengan berkata: "Abu Hamid Al-Ghazali adalah seorang imam yang faqih, ahli kalam yang cerdas, dan seorang penulis yang shufi."

 

LAGI KISAH-KISAH KEROMAH PARA-PARA WALIULLAH

                                      

KISAH PECINTA QUR'AN YANG JASADNYA BERPINDAH DARI TURKI KE MADINAH

 

Al-Habib Quraisy Baharun menceritakan sebuah kisah pecinta Al-Qur'an yang jasadnya berpindah dari Turki ke Madinah. Kisah ini agaknya sulit dicerna akal, namun bisa diterima apabila menggunakan iman. Kisah ini dikutip dari Kitab 'Karomatul Auliya wa Thobaqotul Auliya' dan 'Hilyatul Auliya'. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani (ulama besar Makkah) berkata, dulu ada orang tua di Turki yang hobinya membaca Al-Qur'an. Dari masa muda senang membaca Qur'an sampai masa tuanya. Namun, ketika dia memasuki usia tua, orag tua itu mengalami kesulitan membaca lantaran matanya sudah tidak seperti dulu lagi.

 

Lalu ia pun memiliki idea untuk menulis Al-Qur'an dengan tangannya sendiri dan ingin menulis dengan huruf agak besar sesuai yang dia inginkan. Tujuannya agar ia bisa membaca Al-Qur'an dengan jelas tanpa kesulitan sedikitpun. Akhirnya selesailah Al-Qur'an hasil tulisan tangannya sendiri. Setiap hari ia membaca dan membawa Al-Qur'an tersebut. Ketika menjelang wafatnya, orang tua itu berpesan kepada anaknya, apabila ia wafat hendaklah Al-Qur'an itu diikutsertakan ke dalam jasadnya di dalam kubur. Setelah wafat, anaknya pun menunaikan wasiat ayahnya untuk memasukkan Al-Qur'an itu ke dalam kubur ayahnya.

 

Setelah berlalu satu tahun, anaknya menunaikan ibadah haji. Ketika anaknya berada di Kota Madinah, anaknya berjalan-jalan ke tempat perbelanjaan. Ia memasuki sebuah toko kitab dan kaligrafi di Madinah. Alangkah terkejut anaknya ketika melihat Al-Qur'an yang ditulis ayahnya ada di toko itu. Ia pun bertanya kepada penjaga toko itu sambil menunjukkan Al-Qur'an itu kepada penjaga toko: "Dari manakah Al-Qur'an ini didapat"? Penjaga toko itu menjawab: "Saya mendapatkan Al-Qur'an itu dari seorang penggali kubur".

 

Anaknya berkata lagi: "Bisakah anda mempertemukan saya dengan penggali kubur tersebut?". Lalu penjaga toko itu segera mempertemukannya dengan penggali kubur tersebut. Setelah bertemu, anaknya bertanya kepada penggali kubur. "Bagaimana anda bisa mendapatkan Al-Qur'an ini? (sambil menunjukkan Al-Qur'an tulisan tangan ayahnya kepada penggali kubur itu). Penggali kubur itu berkata: "Saat saya menggali kubur untuk seseorang di baqi' (pemakaman di Madinah), saya melihat sebuah jasad masih utuh dan di samping jasad itu ada sebuah Al-Qur'an tulisan tangan persis dengan yang ada di tangan anda sekarang ini".

 

Saya pun mengambilnya dan menyimpannya, dan suatu ketika saya butuh uang akhirnya saya menjualnya ke sebuah kedai. Anaknya berkata lagi: "Bisakah anda menunjukkan kepada saya, dimana letak posisi makam anda menemukan Al-Qur'an ini?". Kalau anda mau menggali makam itu untuk saya sekali saja, saya ingin melihat orang yang ada di dalam makam tersebut". Penggali kubur itu pun mengiyakannya dan dilakukanlah penggalian. Setelah penggalian, akhirnya tampaklah jasad ayahnya yang berada di dalam kubur itu. Jasadnya dalam keadaan masih utuh. Anak itupun menangis melihat jasad ayahnya sekaligus kagum dengan keajaiban itu.  Padahal dia melihat sendiri saat pemakaman ayahnya itu di Turki setahun lalu. Dan bagaimana bisa makam ayahnya sekarang berada di Kota Madinah.

 

Mengenai kisah ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berkata: "Al-Mar-u ma'a man Ahabba" (seseorang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai). Baik di dunia, di alam kubur ataupun di akhirat nanti. Karena orang yang di dalam kubur itu sangat mencintai Rasulullah SAW, maka Allah mengumpulkannya bersama Rasulullah SAW, baik secara zahir atau pun batin. Menurut Imam Al-Ghazali, hal itu bukanlah suatu perkara sulit atau mustahil. Dan kejadian seperti itu memang sudah sering terjadi. Semoga kita dan anak keturunan kita istiqomah membaca Al-Qur'an dan termasuk golongan ahli Al-Qur'an.

 

BELAJAR DARI SAHL AT-TUSTARI, USIA 3 TAHUN SUDAH QIYAMULLAIL

 

Kisah para ulama terdahulu layak dijadikan iktibar karena perjalanan hidup mereka mengandung hikmah berharga. Salah satu kisah yang sangat menginspirasi diceritakan oleh Ustaz Budi Ashari, Dai yang juga pakar sejarah Islam. Dikisahkan, Imam Sahl bin Abdillah At-Tustari, seorang ulama zuhud (200-283 H) kelahiran Tustar, Persia. Beliau bertutur tentang pendidikan di usia kecilnya: "Saat saya berusia tiga tahun, saya qiyamullail (solat malam).

 

Di usianya yang masih kecil, Sahl At-Tustari melihat pamannya Muhammad bin Siwar solat. Suatu hari pamannya berkata kepada Sahl: "Tidakkah kamu berdzikir kepada Allah yang menciptakanmu? Sahl kecil bertanya: "Bagaimana cara ku berdzikir kepadaNya?" Pamannya berkata: "Dengan hatimu saat kamu hendak istirahat sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lisanmu; Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku." Hal itulah yang menjadi malam-malam Sahl kecil dan beliau mengabari pamannya. Sang paman kemudian berpesan: "Bacalah itu setiap malam sebanyak tujuh kali." Sahl kecil pun mengabarkan perkembangannya kepada pamannya. Mendengar itu, sang paman berpesan lagi: "Bacalah itu setiap malam sebelas kali. Maka Sahl pun mulai merasakan kelezatannya dalam hati. Setelah setahun berlalu, pamannya berkata: "Jagalah yang sudah kuajarkan kepadamu dan teruskan hingga kamu meninggal. Itu bermanfaat bagimu."

 

Suatu hari Pamannya berkata: "Wahai Suhail, siapa yang Allah bersamanya, melihatnya dan menyaksikannya, apakah dia berani berbuat maksiat kepada Nya? Jauhilah maksiat!"

 

Setelah itu, Sahl belajar di Kuttab dan mulai belajar Al-Qur'an. Dan beliau berhasil menghafalnya pada usia 6 atau 7 tahun. Beliau juga rajin puasa sepanjang tahun dan makanan hariannya hanya roti gandum selama 12 tahun. "Inilah kurikulum asli pendidikan Islam, iman sebelum Al-Qur'an. Lihatlah sang paman yang jadi teladan, mendidik bertahap dan memiliki target jelas," kata Ustaz Budi Ashari. Kata Ustaz Budi Ashari, manakala para orangtua atau keluarga mampu menanam iman hingga terasa nikmat di hati, seperti yang dilakukan Muhammad Bin Siwar kepada keponakannya yang kelak jadi ahli ilmu zuhud ini, maka silakan dipacu hafalan Qur'annya setelah itu.

 

Tapi jika belum melakukan seperti itu, bagaimana ia menekan anak-anaknya untuk segera hafal Al-Qur'an. Apalah jadinya pohon besar tanpa akar kokoh? Saat badai fitnah tiba ia akan roboh seperti yang lain. Jika Kuttab hari ini menerima anak-anak seperti Sahal ini, maka Kuttab siap menarget hafal Al-Qur'an di usia dini. Tapi, para orangtua, sudahkah kita jadi teladan? Mengertikah kita tahapan pendidikan Islam? Semoga kisah ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua.

                                                   

KISAH HASAN AL-BASHRI DAN KAROMAH RABI'AH ADAWIYAH

 

Pertemuan Hasan Al-Bashri dengan sufi perempuan Rabi’ah Adawiyah merupakan kisah menarik yang sarat hikmah dan pelajaran. Kisah yang terjadi pada masa tabiin (generasi setelah sahabat) ini juga mengungkap karomah yang dimiliki Rabi’ah Adawiyah. Seperti dikutip dari Kitab Syarah ‘Uqudullijain karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi dikisahkan ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya di depan kaum lelaki. Kemudian ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang bermimpi melihat dirinya dihadirkan ke hadapan Allah dengan mengenakan busana sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke neraka! Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia.

 

Ketika suami Rabi’ah Adawiyah wafat, beberapa waktu kemudian Hasan Al-Bashri, ulama besar Iraq yang hidup di awal kekhalifahan Umayyah (generasi tabiin) dan sahabatnya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin diperkenankan masuk. Rabi’ah pun mengenakan cadarnya dan mengambil tempat duduk di balik tabir. Hasan Al-Bashri mewakili kawan-kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata: ”Suamimu telah tiada, sekarang kau sendirian. Kalau kamu menghendaki silakan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang-orang yang ahli zuhud”.



Kemudian Rabi’ah Adawiyah menjawab: ”Ya, aku suka saja mendapat kemuliaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim (pandai) di antara kalian itulah yang menjadi suamiku”. Hasan Al-Bashri dan kawan-kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap diperistri oleh kamu”. Hasan Al-Bashri berkata: ”Silakan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”. “Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir (suul khatimah),” tanya Rabi’ah.



Hasan Al-Bashri menjawab: ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku tahu”.“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah dimasukkan ke dalam kubur dan Mungkar-Nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak,” tanya Rabi’ah. “Itu persoalan ghaib lagi,” jawab Hasan Al-Bashri.



“Kalau seluruh manusia digiring di mauqif (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku-buku catatan amal yang dilakukan oleh Malaikat Hafazhah beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku-buku catatan itu diberikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri? tanya Rabi’ah. “Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib,” jawab Hasan Al-Bashri. Rabi’ah bertanya lagi: ”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka?”



“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib,” jawab Hasan Al-Bashri.
Kemudian Rabi’ah berkata: ”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah?”. Coba perhatikan kisah dialog tersebut, betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Sekali pun ia seorang solehah, namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik. Diceritakan bahwa Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah-ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Pada waktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.



Suaminya pernah menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran dihantui peristiwa kiamat. Suaminya berkata: ”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”. Ia menjawab, “Aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akhirat”. Lebih lanjut Rabi’ah berkata: ”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami isteri pada umumnya. Hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”. Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, ia berkata: ”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang dimaksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).



Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya: ”Tinggalkan diriku, silakan kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka Aku (suaminya) pun menikah lagi dengan tiga perempuan. Saat itu Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, ia berkata: ”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menuju isteri-isterimu yang lain”.



Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat-sahabat lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang dikehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal memiliki berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur. Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah dikemasi, mendadak pintu rumahnya hilang semua.
Pencuri itu lalu duduk di samping pintu yang dipandang semula belum lenyap. Tiba-tiba saat itu terdengar suara halus menyapanya: ”Letaakkan barang -barang yang kau kemasi. Keluarlah dari pintu ini”.


Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa: ”Kalau Rabi’ah Adawiyah tertidur, tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa mwngantuk”, maka si pencuri itu pun sadar. Barang-barang yang dikemasinya pun ditinggalkannya, lalu keluar melalui pintu tersebut.Demikian kisah Rabi’ah Adawiyah dan dialog spritualnya dengan ulama besar tabiin Hasan Al-Bashri. Semoga manfaat.

 

KISAH LELAKI YAHUDI BERUSIA 600 TAHUN BERKAT DOA ALI BIN ABI THALIB

                                           

Ustaz Dr Miftah el-Banjary, Pakar Ilmu Linguistik Arab & Tafsir Alquran Kebahasaan Alumni Jami’ah Dual Arabiyah Mesir. Kisah ini merupakan kisah nyata yang dialami seorang tokoh ulama di Hadramaut (Yaman) bernama Habib Idrus bin Husien Al-Alaydarus yang diakui kewaliannya. Seorang tokoh ulama yang memiliki kedudukan tinggi di antara para toloh ulama, pejabat dan masyarakat awam di kisaran tahun 1244 Hijriyah. Al-kisah, suatu hari Habib Idrus melakukan pengembaraan jauh bersama 30 pengikutnya. Ketika singgah di Kota Kabul dan Teheran, beliau mendengar kabar mengenai seorang lelaki Yahudi yang umurnya mencapai ratusan tahun. Lelaki itu konon katanya sahabat dekat Sayyidina Ali bin Abi Thalib (601-661 M) dan pernah mengikuti pertempuran Khaibar. Sang Habib mengumpulkan informasi mengenai lelaki Yahudi itu dari masyarakat.

 

Ternyata tokoh masyarakat itu membenarkan kabar tersebut. Dengan rasa penasaran, Habib Idrus beserta rombongan akhirnya sepakat untuk mencari lelaki Yahudi yang usianya berabad-abad. Setelah memperoleh petunjuk dari seseorang bahwa terdapat satu daerah yang dihuni sekitar seratus ribu orang Yahudi. Mereka adalah cucu-cucu lelaki Yahudi yang berumur panjang. Mereka senantiasa menengok datuk mereka yang berusia sangat tua itu. Sementara si Yahudi tua hanya terbaring lemah di ranjang dan tak bisa bergerak, kecuali dengan bantuan. Dengan susah payah, Habib Idrus beserta pengikutnya akhirnya sampai di daerah yang dimaksud. Beliau memohon izin kepada tokoh masyarakat daerah setempat untuk menemui lelaki Yahudi tua tersebut.

 

Setelah memperoleh izin, beliau beserta rombongan masuk ke kamar nenek moyang orang-orang Yahudi itu. Mereka duduk mengitari lelaki tua yang tergeletak lemah di pembaringannya. Lelaki tua itu hanya mengkonsumsi kuning telur dan susu. Tak lama kemudian, lelaki tua berusia beradab-abad itu membuka kelopak matanya dengan dibantu salah seorang keturunannya. Lelaki tua nenek moyang Yahudi itu memandang Habib Idrus bersama rombongannya. Tampak jelas bahwa ia mampu membedakan orang-orang Arab dengan bukan orang-orang Arab (Ajam). Setelah beberapa lama dalam suasana diam, Habib Idrus kemudian bertanya, "Apa yang membuat Anda bisa berumur panjang hingg hidup masa kami?" Lelaki Yahudi menjawab, "Ini adalah berkah doa Ali bin Abi Thalib." Kemudian lelaki tua itu bercerita, "Dulu sewaktu perang Khaibar, pucuk pedangnya mengenaiku. Aku segera berteriak ketika itu, "Jangan bunuh aku! Aku adalah temanmu!"

 

Sebelum itu aku dengan Ali bin Abi Thalib memang berteman akrab. Kemudian Ali bin Thalib berkata kepadaku, "Kamu tidak akan mati, kecuali setelah masuk Islam!" Aku sangat meyakininya. Oleh karena itu, aku terus memeluk agama Yahudi dan tak mau buru-buru masuk Islam, lantaran aku senang hidup lebih lama. Namun, sebentar lagi aku segera masuk Islam. Aku yakin ajalku akan segera datang, apabila aku telah menjadi muslim."

 

Kemudian lelaki Yahudi memperlihatkan bekas luka di punggungnya. "Luka ini selalu sembuh setiap tahun. Ini adalah luka akibat sebetan pedang di perang Khaibar." Setelah itu, lelaki Yahudi itu mengucapkan dua kalimah syahadah menyatakan keislamamnya. Tak selang beberapa lama kemudian, terdengar kabar bahwa lelaki Yahudi itu masuk Islam dan menutup usianya yang sangat panjang, sekitar 600 ratus tahun.

 

Benarlah apa yang menjadi penjelasan kebenaran di dalam Alqur'an bahwa orang-orang Yahudi menutup kebenaran hidayah yang datang pada mereka, disebabkan kecintaan mereka yang sangat besar terhadap dunia serta tidak menyukai kematian. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah hikmah ini. Aamin ya Rabb 'alamin.

 

MENGAPA KITA HARUS MENCINTAI PARA WALI-WALI ALLAH? INILAH SEBABNYA

 

Siapa sebenarnya Waliyullah (Wali Allah)? Secara bahasa, Wali adalah pihak yang dekat, mencintai, dan siap menolong. Wali Allah adalah kekasih Allah atau orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mengapa kita harus mencintai para Wali Allah? Jawabannya sederhana, mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah Ta'ala, maka wajib hukumnya mencintai Wali Allah agar kita semakin dekat kepada Allah Ta'ala. Mencintai Wali-wali Allah merupakan simpul keimanan. Bahkan lebih dari itu, siapa yang mencintai Wali Allah, maka ia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang memusuhi para Wali Allah niscaya akan sengsara dunia dan akhirat Allah Ta'ala menyifati mereka di dalam Al-Qur'an: "Ketahuilah, sesungguhnya Wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa". (QS Yunus ayat 62-63)

 

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya".

 

"Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya". (HR Al-Bukhari) Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menjadi Wali Allah . Imam Al-Ghazali pernah berkata: "Jika engkau menginginkan selamat di dunia dan akhirat, jadikan dirimu berada di dalam hati para Wali Allah ". Bagaimana hal itu bisa terjadi?

 

Imam Al-Ghazali menjawab: "Dengan cara, Engkau mencintai para Wali Allah , maka niscaya mereka akan mencintaimu". "Sejatinya hati para Wali Allah adalah tempat pandangan rahmat Allah Ta'ala. Apabila Allah mendapatkan dirimu di dalam hati mereka para wali-Nya, niscaya Allah akan merahmatimu. Maka jika engkau mencintai Wali Allah , lazimkanlah adab sopan santun ketika bersama mereka dan jagalah wali Allah. Hal tersebut akan menjadi sebab kerinduan Wali Allah kepada dirimu. Apabila sang Wali Allah telah rindu kepadamu, niscaya semangat akan datang kepadamu. Semangat itu akan mengalir, akan kuat sesuai dengan tingkat kerinduan sang wali kepadamu". Jika engkau melihat sang wali dengan perasaan cinta kepadanya, akan mengalirlah dari hatinya ke hatimu, keadaan, makam, kedudukan yang mana engkau tidak akan mampu mendapatkan kedudukan itu dengan usahamu sendiri. Karena sesungguhnya manusia di dalam tingkat kecintaan, tingkat dekatnya kepada Allah berbeda-beda bergantung dengan derajatnya masing-masing".

 

Menjadi Wali Allah

                                                   

Seorang murid Waliyullah As-Sayyid Ahmad Al-Badawi RA (596-675 Hijriyah) bernama Abdul Ali bertanya: "Apakah syarat yang harus diperbuat oleh orang yang ingin menjadi Wali Allah? Sayyid Ahmad Al-Badawi menjawab: Seorang yang benar-benar dalam syariat ada 12 tanda-tandanya, iaitu:

1. Benar-benar mengenal Allah (iaini mengerti benar tauhid dan penuh keyakinan kepada Allah).

2. Menjaga benar-benar perintah Allah.

3. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW.

4. Selalu berwudhu (bila berhadas segera berwudhu kembali).

5. Rela menerima ketentuan (takdir) Allah dalam suka maupun duka.

6. Yakin terhadap semua janji Allah Ta'ala.

7. Putus harapan dari semua apa yang di tangan makhluk.

8. Tabah, sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang.

9. Rajin mentaati perintah Allah.

10. Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah.

11. Tawadhu', merendah diri terhadap yang tua dan muda.

12. Menyadari selalu bahwa syaitan itu musuh yang utama.

 

Demikian keutamaan para Wali Allah. Mudah-mudahan kita mendapat taufik sehingga kita bisa digolongkan dengan orang-orang saleh.

 

Ingin Jadi Waliyullah? Penuhi 12 Syarat Ini

 

Dalam muqaddimah Kitab Al-Hikam yang disusun Syeikh Ibnu 'Athoillah As-Sakandariy disinggung tentang syarat yang harus dipenuhi seseorang jika ingin menjadi waliyullah (wali Allah). Sebelumnya dijelaskan bahwa ilmu tauhid (disebut juga tasawuf) merupakan semulia-mulia ilmu sebab ia menjadi intisari dari syari'at. Bahkan menjadi pilar utama dalam agama Islam. Sebagaimana Allah berfirman: "Wa maa khalaq tul jinna wal insan illa liya'buduun". (Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah Aku).

 

Adapun definisi ilmu tasawuf menurut Junaid Al-Baghdadi adalah mengenal Allah, sehingga antaramu dengan Allah tidak ada perantara. Selain itu, menerapkan akhlak terpuji dalam semua aspek kehidupan menurut apa yang telah disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (SAW). Meninggalkan akhlak tercela dan mengendalikan hawa nafsu sesuai kehendak Allah. Merasa tidak memiliki apapun dan juga tidak dimiliki oleh siapapun kecuali Allah.

 

Abul Hasan Asy-Syadzily radhiallahu 'anhu (RA) berkata: Aku dipesan oleh guruku (Abdussalam bin Masyisy RA): "Janganlah kamu melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mencapai keridhaan Allah. Jangan duduk di majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Dan jangan bersahabat kecuali kepada orang yang dapat membantu berbuat taat kepada Allah. Dan jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah keyakinanmu terhadap Allah, yang demikian ini sudah jarang untuk didapat."

 

Sayyid Ahmad Al-Badawi RA (596-675 Hijriyah) berkata: "Perjalanan kami berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah SAW:

1. Benar dan jujur.

2. Bersih hati.

3. Menepati janji.

4. Bertanggung jawab dalam tugas dan derita.

5. Menjaga kewajiban.

 

Seorang muridnya bernama Abdul Ali bertanya: "Apakah syarat yang harus diperbuat oleh orang yang ingin menjadi wali Allah? Sayyid Ahmad Al-Badawi menjawab: 'Seorang yang benar-benar dalam syariat ada 12 tanda-tandanya, iaitu (seperti yg telah disebutkan sebelum ini):

 

1. Benar-benar mengenal Allah (yakni mengerti benar tauhid dan penuh keyakinan kepada

     Allah).

2. Menjaga benar-benar perintah Allah.

3. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW.

4. Selalu berwudhu (bila berhadas segera berwudhu kembali).

5. Rela menerima ketentuan (takdir) Allah dalam suka maupun duka.

6. Yakin terhadap semua janji Allah.

7. Putus harapan dari semua apa yang di tangan mkhluk.

8. Tabah, sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang.

9. Rajin mentaati perintah Allah.

10. Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah.

11. Tawadhu, merendah diri terhadap yang tua dan muda.

12. Menyadari selalu bahwa setan itu musuh yang utama

 

TINGGALKAN DOSA ZINA, AKHIRNYA JADI AHLI SURGA

                                        

Kisah ini memberikan hikmah bahwa Allah Subhanahu wata'ala Maha Penerima Taubat. Siapa pun yang ingin bertaubat, termasuk dari perbuatan zina, maka Allah janjikan masuk surga. Inilah, kisah seseorang yang masuk surga karena meninggalkan dosa zina , yang dinukil dari kitab 'Man Taraka Syai-an Lillahi ‘Awwadhahullah Khairan Minhu,' karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi. Berikut kisahnya;

 

Abu Imran Al-Juny berkata: “Ada seorang pria dari Bani Israil yang tidak pernah mencegah diri dari perbuatan dosa. Saat itu ada sebuah keluarga dari Bani Israil yang sedang dalam keadaan butuh bantuan. Maka dikirimlah seorang wanita dari kalangan keluarga tersebut kepada si pria tadi untuk meminta sesuatu. Tetapi si pria ini menjawab: “Tidak boleh, kecuali bila kau membolehkan aku menjamah dirimu. Si wanita itu pun menolak, lalu beranjak keluar. Maka bertambah parahlah keadaan keluarga tersebut. Akhirnya si wanita datang lagi kepadanya memohon bantuan lagi. Tetapi jawaban yang diterimanya tetap: “Tidak boleh, kecuali bila kau membolehkan aku menjamah dirimu.” Si wanita ke luar kembali ke rumahnya. Keadaan pun bertambah sengsara lagi. Keluarga tersebut akhirnya mengirim si wanita itu lagi. Si wanita itu berkata: “Ya, tidak apa-apa.” Saat si pria itu berdua dengannya, tiba-tiba wanita itu gemetar seperti bergetarnya pelepah kurma. Si pria bertanya: “Ada apa denganmu?”

 

Dijawab: “Aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Ini adalah perbuatan yang belum pernah aku lakukan.” Si pria ini berkata: “Kau merasa takut kepada Allah, padahal kau belum pernah melakukannya, sementara aku melakukannya? Sungguh, sekarang aku berjanji kepada Allah Ta`ala bahwa aku tidak akan melakukan dosa yang dulu pernah aku lakukan.” Maka Allah Ta`ala memberikan wahyu pada seorang nabi dari nabi-nabi Bani Israil bahwa si fulan itu telah dicatat termasuk ahli Surga.

 

Hikmah Kisah

 

Barang siapa telah melakukan dosa kecil dan dosa besar masih memungkinkan masuk surga tanpa hisab jika ia bertaubat dan kembali (kepada Allah), maka Allah akan mengganti keburukan orang yang bertaubat tersebut menuju kebaikan, meskipun telah melakukan dosa syirik, pembunuhan dan zina. Hal ini sebagaimana Allah Ta'ala firmankan didalam surah al Furkan ayat 68 – 70 mafhumnya: “Dan orang-orang yang tiada menyembah Tuhan yang lain bersama Allah, dan pula membunuh manusia yang diharamkan Allah, kecuali dengan kebenaran dan pula mereka tidak berzina. Barang siapa yang berperbuat sebalek demikian, nescaya akan menemui dosa (seksa). Dilipat gandakan seksa untuknya pada hari kiamat dan kekal didalamnya serta terhina. Kecuali orang yang taubat dan beriman lagi mengerjakan “amal soleh” Maka Allah akan mengantikan kejahatan mereka dengan kebaikkan. Allah Pengampun lagi Penyayang”.

 

Ibnu Jarir At Thabari –rahimahullah- berkata: "Ayat ini telah menjelaskan bahwa semua pelaku dosa besar berada di bawah kehendak Allah, jika berkehendak Dia memaafkannya, dan jika berkehendak Dia akan menyiksanya, selama dosa besarnya bukanlah sebuah kesyirikan kepada Allah”. (Tafsir At Thabari).

 

KISAH KAROMAH SYEIKH SYA'RAWY DAN PERISTIWA UNIK MENJELANG WAFATNYA

 

Tanggal 15 April mengingatkan kita tentang kelahiran seorang ulama besar asal Mesir, Al-Allamah As-Sayyid As-Syarif Imam Muhammad Mutawalli As-Sya'rawy (1911-1998). Berikut kisah karamah Syeikh Sya'rowi yang diceritakan seorang penuntut ilmu di Kairo Mesir. Syeikh Sya'rawy adalah seorang ulama yang begitu dihormati di Mesir. Meskipun lebih banyak menggunakan 'Amiyah Sya'biyyah (bahasa rakyat), beliau sangat komunikatif dan mudah dicerna oleh semua kalangan. Bahkan kalam-kalamnya, doanya selalu tersiar di berbagai television dan radio di Mesir maupun di negeri Arab lainnya.

 

Bagi para ulama sepuh Al-Azhar, Syeikh Sya'rawi merupakan sosok istimewa, orang yang tulus dalam berkhidmat di jalan agama dan umat Islam. Grand Syeikh kala Itu bahkan menanggapi sekaligus mendaulatnya sebagai salah seorang ulama pembaharu (Mujaddid) dalam ilmu tafsir. Syeikh Sya'rowi lahir di desa Daqadus, daerah Mith Ghamr, Provinsi Daqahlia Mesir, tanggal 15 April 1911, ada yang menyebutnya tanggal 16 April 1911. Pada saat diskusi panel di pavilion Al-Azhar Desember 2019 lalu, beberapa ulama besar mengulas manakib Syeikh Sya'rawy di antaranya Syeikh Prof Dr Ahmed Omar Hasyim, Dr Ahmed Sya'rawy (putra Syeikh Sya'rawy). Menurut Syeikh Omar Hasyim, Syeikh Sya'rawy adalah satu wali Allah yang doanya mustajab. mengenai cerita keramat para auliya dan keistimewaan ulama Al-Azhar, Syeikh Omar Hasyim memang paling mampu menceritakan secara detail. Termasuk cerita Syeikh Omar tentang keramat Syeikh Abdel Halim Mahmoud RA.

 

Syeikh Sya’rawy berguru kepada Syeikh Al-Sayyid Mohamed Balkaid Al-Hibry Al-Hasani, seorang ulama besar sekaligus mursyid Tarikat Syadzily di Al-Jazair. Pertemuan keduanya pun unik, dikisahkan mula-mula Syeikh Sya'rawi diberikan mandat sebagai pimpinan delegasi Al-Azhar untuk negara Al-Jazair. Namun, Syeikh Sya'rawy menolaknya. Pada suatu malam, Syeikh Sya'rawy bermimpi bertemu seorang lelaki separuh baya yang bersinar wajahnya dan berkata kepada dirinya dalam mimpi: "Mengapa Engkau menolak datang pada kami?".

 

Dari mimpi itulah, akhirnya mengubah fikiran dan sikap Syeikh Sya'rawi, yang awalnya menolak menjadi pimpinan delegasi, menerima dan memenuhi permintaan menuju negara Al-Jazair. Sesampainya di Al-Jazair, beliau bertemu dengan Syeikh Al-Sayyed Mohamed Balkaid Al-Hibry Al-Hasani yang ternyata adalah sosok yang menemuinya sekaligus menegurnya dalam mimpi.

 

Batalkan Pemindahan Maqam Nabi Ibrahim

 

Karomah lain yang dianugerahkan Allah kepada beliau terjadi sekitar tahun 1954 di Saudi pada era Raja Saud Ibn Saud. Kisah ini sangat masyhur di jazirah Arab terlebih di Mesir. Kala itu Syeikh Sya'rawy sebagai dosen Kuliyah Syari'ah di Makkah Al-Mukarramah mendengar bahwa pemerintah Saudi melakukan projek perluasan area Baitullah Al-Haram sekaligus melakukan Tarmim (perbaikan), sehingga adanya rencana pemindahan maqam Ibrahim dari tempat aslinya, tujuannya untuk memperluas area Thawaf. Pihak kerajaan Saudi pun sudah berikan keputusan, para mufti sepakat hanya tinggal eksekusi.

 

Namun, Syeikh Sya'rawy-lah satu-satunya orang non-Saudi yang menolak dan berupaya mencegah rencana itu. Berselang lima hari sebelum eksekusi, Syeikh Sya'rawy pun menghubungi Masyayeikh Saudi seperti Syeikh Ibrahim Al-Noury dan Syeikh Ishaq Azzouz guna menyambungkannya kepada sang raja untuk menyampaikan alasan penolakannya. Singkat cerita, Syeikh Sya'rawy akhirnya melayangkan surat protes kepada sang raja, bahwa maqam Ibrahim harus tetap berada di tempatnya. Dan upaya pemindahan itu baginya merupakan pelanggaran dan tidak dapat diterima. Dalam surat yang berisi 5 lembar itu juga disertakan dengan alasan-alasan, serta menjabarkan tinjuannya dari segi sejarah, Fiqh yang didasarkan pada hadis dan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan Maqam Ibrahim Al-Khalil.

 

Hanya berselang sehari, surat itupun sampai di tangan sang raja. Dan setelah sang raja membaca suratnya dan mempercayai semua yang dikemukakan Syeikh Sya'raw. Sehingga sang raja pun mengumpulkan para ulama Saudi dan semuanya membenarkan seluruh dalil-dalil Syeikh Sya'rawy yang akhirnya membuat sang raja memutuskan membatalkan rencana pemindahan maqam Sayyidina Ibrahim AS.

 

Dikisahkan, sang raja pun akhirnya mengundang Syeikh Sya'rawy untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan hadiah kepadanya. Bahkan Dua hari setelah Sang raja membatalkan rencana pemindahan itu, Syeikh Sya'rawi diberikan kemuliaan oleh Allah, ditemui Nabi Ibrahim sembari mengucapkan terima kasih kepadanya.


                                     


Kisah Wafatnya

 

Kisah wafat beliau diceritakan oleh Syeikh Abdel Rahim Sya'rawy (salah satu putra beliau). 18 hari sebelum wafat tiba-tiba Syeikh Sya'rawy berhenti dari segala aktivitas makan, minum dan lainnya. Tiba-tiba seolah beliau tahu waktu ajal akan menjemputnya. Beliau pun menentukan sendiri tempat dimana dimakamkan. Tiba-tiba beberapa jam sebelumnya minta untuk mandi dan membersihkan badan. Minta digantikan jubah putih yang serba baru yang belum pernah dipakai sama sekali. Sebagaimana cerita-cerita keramat para ulama dan para auliya di Indonesia yang sering kita dengar.

 

Menurut kesaksian kerabat dan keluarga, saat ajal datang, Syeikh Sya'rawy seolah disambut oleh para ahlu-bait, para wali Kutub di Mesir seperti Sayyidina Husein RA, Sidi Syeikh Ahmad Al-Badawi RA yang makamnya di Kota Thanta, Sidi Ibrohim Al-Qursy Ad-Dusuqy RA yang makamnya di Kota Dasuq Kafr, Sidi Hasan Syadzily RA yang makamnya di Humaitsaroh, Sayyidah Zaenab Al-Kubra dan Sayyidah Nafisah yang makamnya di Kairo dan masih banyak lagi. Saat mengucapkan syahadat di detik-detik menjelang wafat beliau menggunakan Khitab "Annaka" Muhammadurrosulullah (bahwasanya Engkaulah Muhammad SAW utusan Allah Ta'ala). Inilah Khitab kepada orang yang ada di hadapan beliau yang artinya Rasulullah SAW pun turut hadir menyambut beliau.

 

KISAH SYAIKH ABDUL QADIR AL-JILANI, DIKALA MENGHADAPI SAKARATUL MAUT

 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Futuh Al-Ghaib bertutur mengenai kisah seorang wali menjelang sakaratul maut. Kisah ini disampaikan dalam risalah ke-79, sebagai berikut: Kala sang wali menghadapi sakaratul maut, putranya, Abdul Wahab berkata kepadanya, “Apa yang mesti kulakukan sepeninggal ayah?” “Kamu mesti takut kepada-Nya, jangan takut kepada selain-Nya, jangan berharap kepada selain-Nya, dan berpasrahlah hanya kepadaNya,” jawabnya. Selanjutnya ia berkata, “Aku adalah biji tak berkulit. Orang lain telah datang kepadaku; berilah mereka tempat dan hormatilah mereka. Inilah manfaat yang besar. Jangan membuat tempat ini penuh sesak dengan ini. Atasmu kedamaian, kasih dan ramat Allah. Semoga Dia melindungiku dan kamu, dan mengasihiku dan kamu. Kumulai senantiasa dengan asma Allah.”

 

Ia terus berkata begini satu hari satu malam, “Celakalah kau, aku tak takut sesuatu pun, baik malaikat maupun malakul maut. Duhai malakul maut! Bukanlah kau, tapi sahabatku yang bermurah kepadaku.” Lantas pada malam kewafatannya, ia memekik keras, dan kata kedua putranya, Abdur-Razaq dan Musa, dia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya sembari berkata, “Atasmu kedamaian, kasih dan rahmat Allah. Bertobatlah dan ikutilah jalan ini. Kini aku datang kepadamu.” Dia berkata, “Tunggu”. Dan, meninggallah dia.

 

10 SIFAT SALIK DAN PERAIH TUJUAN ROHANI, MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR

 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitabnya yang berjudul Futuh Al-Ghaib menyebut ada sepuluh sifat pada salik, pemawas-diri dan peraih tujuan rohani .

 

Pertama, tak bersumpah dengan-Nya, entah benar atau tidak, entah sengaja atau tidak. Sebab bila hal ini termapankan, dan lidah terbiasa dengannya, maka hal ini membawanya kepada suatu kedudukan, yang di dalamnya ia mampu menghentikan bersumpah dengan sengaja atau tidak.

 

"Nah, bila ia menjadi begini, Allah membukakan baginya pintu nur-Nya. Hatinya tahu manfaat ini, kedudukannya termuliakan, langkah dan kesabarannya terkuatkan. Maka, dipujilah dan dimuliakanlah ia di tengah-tengah tetangga dan sahabatnya, sehingga yang tahu dia, menghormatinya, dan yang melihatnya, takut kepadanya," tuturnya.

 

Kedua, menghindar dari berbicara tak benar, entah serius atau bercanda. Sebab bila ia melakukan dan mengukuhkan hal ini pada dirinya sendiri, dan lidahnya terbiasa dengannya, maka Allah membuka hatinya, dan menjernihkan pengetahuannya, sehingga ia tampak tak tahu kepalsuan. Bila ia mendengarnya dari orang lain, ia memandangnya sebagai noda besar, dan termalukan olehnya. Bila ia memohon kepada Allah agar menjauhkannya, maka baginya pahala.

 

Ketiga, menjaga janji. Sungguh, hal ini demikian menguatkannya, sebab mengingkari janji termasuk kepalsuan. Maka terbukalah baginya pintu kemurahan, dan baginya kemuliaan, dan dicintailah ia oleh para shiddiq dan mulialah ia di hadapan Allah.

 

Keempat, tak mengutuk sesuatu makhluk pun, tak merusak sesuatu pun, meski sekecil atom pun, dan bahkan yang lebih kecil darinya. Sebab hal ini termasuk tuntutan kebenaran dan kebaikan. Berlaku berdasarkan prinsip ini, memperoleh husnul khatimah di bawah naungan-Nya, Ia meninggikan kedudukannya, Ia melindunginya dari kehancuran, dan mengaruniainya kasih sayang dan kedekatan dengan-Nya.

 

Kelima, tak mendoakan keburukan bagi seorang pun, meski ia telah dizalimi. Lidah dan geraknya tak mendendam, tapi bersabar demi Allah. Hal ini membawanya kepada kedudukan mulia di dunia dan di akhirat. Ia menjadi dicintai dan disayangi oleh semua penerima kebenaran, baik dekat maupun jauh.

 

Keenam, tak berpihak kepada kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan mereka yang sekiblat. Sifat ini menciptakan kesempurnaan dalam mengikuti Sunnah, dan amat jauh dari mencampuri pengetahuan Allah dan juga dari penyiksaan-Nya, dan amat dekat dengan ridha dan kasih sayang-Nya. Inilah pintu kemuliaan dan keagungan dari Allah Yang Mahamulia, yang menganugerahkannya kepada hamba beriman-Nya sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap semua orang.

 

Ketujuh, tak melihat sesuatu kedosaan, baik lahiriah maupun batiniah. Mencegah anasir tubuhnya darinya, sebab hal ini merupakan suatu tindakan tercepat dalam membawa balasan bagi hati dan anasir tubuh di dunia dan pahala di akhirat. "Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk berlaku begini, dan menjauhkan kedirian dari hati kita,"ujarnya.

 

Kelapan, tak membebani seorang pun, entah dengan beban ringan atau berat. Tapi, melepaskan orang dari beban, entah diminta atau tidak. Hal ini menjadikan hamba-hamba Allah dan para saleh mulia, dan memacu orang untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Hal ini menciptakan kemuliaan penuh bagi hamba-hamba Allah dan para saleh, dan baginya segenap makhluk tampak sama. Maka Allah membuat hatinya tak butuh, yakin dan bertumpu pada Allah. Allah tak meninggikan seorang pun, bila masih terikat kedirian. Bagi orang semacam ini, semua makhluk memiliki hak yang sama, dan mesti diyakini bahwa inilah pintu kemuliaan bagi para mukmin dan para saleh, dan pintu terdekat kepada keikhlasan.

 

Kesembilan, bersih dari segala harapan insan, dan tak merasa tergoda hatinya oleh milikan mereka. Sungguh, inilah kemuliaan besar, ketakbutuhan sejati, kerajaan besar, pujian agung, kepastian nan tegar kepasrahan sejati kepada-Nya. Inilah pintu segala pintu kepasrahan kepada-Nya, yang memampukan orang meraih ketakwaan kepada-Nya, dan pencipta ketertarikan sempurna dengan-Nya.

 

Kesepuluh, rendah hati. Dengan ini, sang hamba termuliakan dan sempurna di hadapan Allah (Mahaagung Dia) dan insan. Inilah sifat penyempurna kepatuhan, dan dengannya sang hamba meraih kebajikan di kala suka dan duka, dan inilah kesalehan nan sempurna. Rendah hati membuat sang hamba merasa rendah daripada orang lain. Ia berkata, “Mungkin orang ini lebih baik dariku di hadapan Allah, dan lebih tinggi kedudukannya.”

 

Mengenai orang kecil, sang hamba berkata, “Orang ini tak menentang Allah, sedang aku menentang-Nya; sungguh ia lebih baik dariku.” Mengenai orang besar, sang hamba berkata, “Orang ini telah mengabdi kepada-Nya sebelum aku.” Mengenai orang alim, sang hamba berkata, “Orang ini telah dianugerahi yang tak ada padaku, ia telah memperoleh yang tak kuperoleh, ia mengetahui yang tak kuketahui, dan ia bertindak dengan pengetahuan.” Mengenai orang bodoh, sang hamba berkata, “Orang ini tak mematuhi-Nya karena tak tahu, dan aku tak mematuhi-Nya meski aku tahu, dan kutak tahu akhir hayatku dan akhir hayatnya.” Mengenai orang kafir, sang hamba berkata, “Entahlah, mungkin ia akan menjadi seorang Muslim, dan mungkin aku akan menjadi tak beriman.”

 

Inilah pintu kasih sayang dan ketakutan. Bila hamba Allah telah menjadi begini, maka Allah menyelamatkannya dari segala bencana, dan menjadikannya pilihan-Nya, dan menjadilah ia musuh Iblis, sang musuh Allah. Keadaan ini menciptakan pintu kasih. Dengan mencapainya, pintu kebanggan tertutup dan tali kesombongan diri terputus, dan cita keunggulan diri, agamis, duniawi dan rohani tercampakkan.Inilah hakikat pengabdian kepada-Nya; Tiada sebaik ini. Dengan meraih keadaan ini, lidah terhenti menyebut insan dunia dan yang sia-sia, dan karyanya tak sempurna tanpa hal ini; kebencian, kepongahan dan keberlebihan terhapus dari hatinya pada segala keadaan, lidahnya sama, orang baginya sama. "Ia tak menegur seseorang dengan keburukan, sebab hal ini membencanai hamba-hamba Allah dan pengabdi-pengabdi-Nya, dan menghancurkan kezuhudan," demikian Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

 

                              


BEGINILAH DIALOG NABI MUHAMMAD SAW KETIKA BERTEMU ALLAH SAAT ISRA' MI'RAJ

 

ADALAH DIFIKIRKAN AMAT PERLU MENGHAYATI PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ ITU KERANA DISINILAH LETAKNYA DALIL KENAPA SEMUA MURID YANG MEMPELAJARI TARIQAT UNTUK SAMPAI BERTEMU ALLAH BAGI TERUS DUDUK DIALAM HAKIKAT DAN SETERUSNYA MENCAPAI MA’RIFAT KEHADRAT ALLAH SWT. HAYATI KISAH INI..

 

Isra' wal Mi'raj adalah perjalanan terindah yang dilalui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW). Tidak ada manusia di muka bumi yang diberi nikmat bisa bertemu langsung dengan Zat Maha Kuasa, Allah 'Azza wa Jalla.

 

Isra' wal Mikraj menjadi detik paling berkesan bagi Rasulullah SAW. Tidak heran umat Islam di dunia ikut memperingati peristiwa ini setiap tanggal 27 Rajab yang jatuh setiap tahun. Menurut Dai kharismatik asal Cirebon yang juga Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah, Buya Yahya, peristiwa Isra' Mi'raj tidak bisa dilihat dengan kacamata akal dan pikiran manusia. Rasulullah SAW bertemu dan melihat Allah Ta'ala ketika Mik'raj, maka cara melihatnya pun harus menggunakan hati dan iman.

 

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk memberi salam kepada Allah Ta'ala, hingga Allah mewahyukan salam yang tepat dari hamba kepada-Nya iaitu: "ATTAHIYYATUL MUBAROKATUSH SHOLAWAATUTH THOYYIBAATU LILLAH" (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah Ta'ala).

 

Saat itu Allah menjawab: "ASSALAMU 'ALAIKA AYYUHANNABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BAROKATUH" (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah salat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra Mi'raj. "Pesan yang bisa dibaca dari bacaan Tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan salat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan. Pertama adalah hubungan baik dengan Allah. Kedua, hubungan baik dengan Rasulullah saw. Ketiga, hubungan baik dengan sesama manusia," kata Buya Yahya dalam ceramahnya.

 

"Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah dan berusaha menjalin hubungan baik kepada Allah ternyata tidak cukup, akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rasulullah SAW," terang Buya Yahya.Digambarkan dalam tasyahud itu seorang hamba yang menghadap kepada Allah di dalam salat ia harus mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan. Salat merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah, akan tetapi justru di saat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah, seorang hamba harus mengingat makhluk agung Rasulullah SAW di dalam salatnya. "Ya Rasulullah SAW alangkah agungnya dirimu di saat kami menghadap Penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak dianggap benar jika kami tidak mengingatmu," kata Buya Yahya.

 

Ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rasulullah SAW. Artinya, sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi kecintaan kepada Rasulullah SAW dan banyak membaca salawat untuknya. Pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW saja ternyata belum dianggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Iaitu jika seorang hamba dalam salatnya berhenti pada salam kepada Rasulullah SAW dan tidak melanjutkannya maka penghadapannya kepada Allah pun tidak dianggap sah.

 

Maka demi kesempurnaan salatnya, seorang hamba harus mengucapkan "ASSALAMU ALAINA WA’ALA ’IBADILLAHISH SHOLIHIN" (kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah dan hamba-hambaNya yang soleh). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang diikrarkan oleh seorang hamba disaat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak salat, puasa dan membaca salawat kepada Rasulullah SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.

 

Ketika kita hendak keluar dari solat pun kita harus mengucapkan kalimat "ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH" dan bukan zikir-zikir lainnya seperti Laailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah salat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yang merugikan orang lain? Itulah pendidikan keindahan yang bisa dipetik dari makna salat dan kisah Isra wal Mi'raj. Sungguh benar orang yang telah salat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran.

 

Setelah itu membaca DUA KALIMAH SHADATAI bagi mengukuhkan lagi keimanan dengan dua kalimah yang diambil melalui wasilah dan rabitah dari tangan ke tangan hingga menyampai ketangan Rasulullah saw. Disinilah kepentingan wasilah dan rabitah pada shadatai itu kerana dgn cara itu saja shadatai itu akan diterima Allah. Pada setiap solat 5 waktu terdapat 9 kali membaca shadatai sebagai pengakuan kebesaran Allah pada zat dan sifatNya yg Mahabesar dan Mahapencipta. Diwaktu itu kedudukan 2 kalimah shadarai itu dikedudukan NurulAllah dan NurMuhammad yg tercantumkan menjadi satu didalam hakikat Makrifatullah dan Hakikatullah. Maka dengan sendiri ia menjadi dalil mengapa setiap salik wajib melakukan solat 5 waktu dan waktu inilah kegunaan Marafatullah dan Hakikat itu diperlukan. Malah pada seluruh solat dari takbbirraktulhiram hinggalah salam menjadi wajib dalam kedudukan bermakrifat dan berhakikat kehadrat Allah SWT. Barulah sempurna solat itu dengan selengkapnya dan diterima Allah SWT.

 

                                 


Pekara ini tidak pernah diucapkan dan didedahkan selama ini kerana semua guru merahsiakannya dari semua murid-murid kerana bukan semua murid yang dapat “dianugrahkan” kefahaman Marifatullah dan Hakikat atau juga disebut “mengenal Allah”. Mengenal Allah hanya diperolehi atas ikhsan dan kasih saying Allah SWT dan Rasulullah saw. Mereka yang tak mampu menyampai, maka mereka hanya duduk di maqam syariat sahaja sampai mati. Tiada erti kata bahawa seseorang itu mampu pergi sendirian utk bertemu Allah tampa wasilah dan rabitah kepada Nabi saw dan melalui tangan-tangan guru-guru mereka. Kerana hanya Nabi Muhammad saw saja satu-satunya manusia yang pernah mengadap kehadrat Allah SWT secara sedar dan hidup. Dgn mengambil wasilah dan rabitah dari tangan Baginda saja mampu utk menyampai kepada Allah SWT. Jika manusia yang mengaku mengenal Allah lewat dirinya sendiri, maka Iblislah guru mereka. Hati-hati dengan kaum ini.

 

Rasanya telah lengkaplah semua warkah dari pengajian syeikh Mughyideen Abduk Qadir Jailani ini didedahkan untuk dikongsikan kepada anda semua. Walupun dirasakan ada lagi yang tak dapat digali, maka segala kekurangan itu saya serahkan kepada Allah SWT dan kepada Syeikh sendiri kerana kekurangan yang saya miliki. Diharap warkah ini dapat memberi feadah dan pelajaran kepada semua dalam menjalankan kerjabuat dalam amal dan ibadah menurut ajaran Syeikh Mughyideen itu sendiri. Bersabarlah dan terus tekun diatas jalan ini walau dimana pun kedudukan anda semua. Insyaallah pasti kamu akan Berjaya. Amin ya rabal alamin.

 

Demikiankah warkah yang saya tulis di bhg 6, semoga ini membawa barakah, manfa,at, dan Ridho Allah swt, Syafa‘at Rasulullah saw serta Karomah Auliyaillah khushushon Syeikh Mughydeen Abdul Qodir Jailani ra selalu terlimpahkan kepada kita, keluarga dan anak-anak keturunan kita semua Dunia dan Akhirat. Dan semoga kita terpelihara dari semua bentuk kezaliman dunia dan akhirat yang didatangkan kepada kita dari manusia, Jin, Syaitan dan Iblis. Semoga dengan berkat Syeikh kita mendapat ilmu yang mengalir darinya dan mendapat Syafaat Guru dan pertolngan Allah diakhir hayat kita nanti. Amien ya rabbal alamin…

 

Sekian dari saya,


SAMBUNGAN BAB 7


ZAMAN

3 comments:

  1. Marhaban ya Ramadon

    Maseh bertahan setelah 8 hari berpuasa. Alhamdulillah... Semoga Allah memberi kekuatan kepada ku dan kalian semua untuk terus berpuasa hingga keakhirnya. Hanya Allah saja yang boleh memberi kekuatan itu. Tampa kekuatan yang diberiNya... kita pastinya tak mampu bertahan. Hanya kepada Allah kita berserah dan memohon pertolongan. Amminn.

    zaman

    ReplyDelete
  2. Salam semua... Kita dah raya pun. Kini dah hari raya ke 5. Alhamdulillah... berjaya jua kita enghadapi Ramadon dengan kesabaran dan ketahanan walaupun agak sukar sebenarnya. Cuma sedikit terkilan bila tengah sedap2 puasa... tiba2 hari raya. Hari raya tahun ini menengutkan. Jika ikut kiraan sepatutnya hari raya, hari Selasa bukan hari Isnin. Kalau hari Isnin kita cuma puasa 29 hari. Kurang sehari jika dibandingkan umat islam dinegara lain. Oleh kerana itu kita wajib ganti sehari. Dia orang bolehlah raya hari Isnin sebab dia orang puasa awal sehari. Yg kita dok mengada2 ikut mereka tu pasal apa ??? Tak ada sebab yg kukuh nak raya awal. Tak pasal2 hutang sehari. Siapa kena tanggung... kita jugak yg tanggung. Sabar je la...

    zaman

    ReplyDelete
  3. Assalam Tuan Zaman, apa pendapat Tuan berkenaan eskavasi harta karun pulau oak yg rancak dibuat sekarang...ada teori selain harta karun, ada artifak agama yg ditanam dan disembunyikan di pulau tersebut...

    ReplyDelete